Masuknya Dosen Asing Dorong Kemajuan Pendidikan RI

JAKARTA, KRJOGJA.com – Rektor Universitas Gadjah Mada Panut Mulyono mengatakan keberadaan dosen asing bisa menjadi aktor pendorong kemajuan pendidikan di Tanah Air.

"Kemampuan dosen-dosen yang ada di dalam negeri, tak kalah dengan dosen impor. Keberadaan dosen asing saat ini lebih digunakan sebagai katalisator. Sebagai pendorong kita, agar kita juga bisa lebih cepat maju," kata Panut Mulono di Kantor Wakil Presiden RI, Jakarta akhir pekan lalu.

Panut berharap dosen asing tersebut juga bisa membawa jaringannya untuk bekerja sama dan berkontribusi bagi riset atau penelitian di Indonesia.
"Adanya profesor asing, berkolaborasi dengan dosen Indonesia, lalu membuat proposal riset, dananya itu harapannya bisa datang dari lembaga-lembaga donor di luar negeri," terang dia.

Meski demikian, Panut meyakini pada dasarnya kemampuan dosen-dosen yang ada di dalam negeri, tak kalah dengan dosen impor tersebut. "Jangan lupa Indonesia itu kaya raya tentang orang-orang cerdas. Jadi tidak akan kalah dengan tenaga ahli dari mana pun," ujar Panut.

Anggota Komisi X DPR RI Anang Hermansyah  menyebutkan soal rencana mendatangkan tenaga pengajar dari asing bila disandingkan dengan komposisi jumlah mahasiswa baik peguruan tinggi negara (PTN)  dan perguruan tinggi swasta (PTS)  cukup memiliki alasan konkret.  

"Data tahun 2014/2015  jumlah mahasiswa di PTN 1,9 juta,  PTS 3,9 ribu.  Adapun jumlah dosen PTN sebanyak 63.704 dan di PTS 108.067 dosen.  Komposisi mahasiswa dan dosen dari data tersebut memang tampak timpang,"  ujar Anang di Jakarta, Sabtu (14/4/2018). 

Hanya saja,  imbuh Anang,  data tersebut tentu mengalami perubahan seiring kebijakan Kemnristek Dikti yang cukup ketat menekankan kepada perguruan tinggi untuk merekrut dosen profesional dengan mendorong Nomer Induk Dosen Nasional (NIDN).   "Masalahnya,  andai saja memang kekurangan dosen untuk bidang tertentu apa harus dengan mengimpor dosen asing?"  gugat Anang.  (Ati)

BERITA REKOMENDASI