Membangun Kesadaran Memori Kolektif Siswa

YOGYA, KRJOGJA.com – Pendidikan kesejarahan di Indonesia masih menemui berbagai permasalahan. Riset tentang pengajaran sejarah di sekolah-sekolah menengah menunjukkan bahwa sejarah masih menjadi mata pelajaran yang menjemukan dan tidak banyak diminati, meskipun sejarah telah menjadi pelajaran wajib di semua jenis tingkatan sekolah.

Dirjen Kebudayaan Kemdikbud Hilmar Farid PhD mengatakan, tujuan utama diberikannya pelajaran sejarah bagi siswa sekolah untuk membangun kesadaran memori kolektif sebagai modal pembangunan bangsa Indonesia, masa kini dan masa depan. "Namun masih ada gap (jarak) antara tujuan ideal tersebut dengan kompetensi yang didapat siswa setelah mengikuti pelajaran sejarah di sekolah," kata Hilmar melalui rekaman video saat Pembukaan Seminar Sejarah Nasional 'Paradigma dan Arah Baru Pendidikan Sejarah di Indonesia' di University Club UGM Yogyakarta, Senin (3/12/2018).

Menurut Hilmar, sebagus apapun materi sejarah atau gaya mengajar guru, namun jika penyampaiannya hanya satu arah, yakni guru memberikan materi saja kepada peserta didik, maka tujuan terbangunnya memori kolektif tidak akan terwujud. "Tantangan bagi guru untuk menerjemahkan tujuan pelajaran sejarah ke dalam materi ajar supaya siswa mampu merangkai data sejarah dan menggali informasi sehingga memiliki pola berpikir kritis," katanya.

Dalam Seminar Sejarah Nasional tahun 2018 ini juga dilakukan pemberian aparesiasi bidang kesejarahan Sartono Kartodirjo Award meliputi dua nominasi, yakni guru sejarah berprestasi dan komunitas kesejarahan. Sebagai guru sejarah berprestasi adalah Abdul Somad SS MPd, guru SMAN 1 Serang Banten, sedangkan komunitas kesejarahan terbaik adalah Komunitas Jelajah Budaya. 

Kepala Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Badan Penelitian dan Pengembangan, Kemdikbud Dr Awalludin Tjalla mengatakan, dari sisi pembelajaran, pelajaran sejarah perlu divariasikan. Salah satu faktor pentingnya adalah guru yang mampu menyampaikan muatan pelajar dengan metode inovatif memanfaatkan teknologi sehingga siswa bisa memahami lebih jauh tentang suatu sejarah. "Diharapkan setelah mendapatkan pelajaran sejarah siswa mempunyai pemahaman kemudian mampu melakukan analisa dan memiliki pola berpikir kritis," tuturnya.

Direktur Sejarah Kemdikbud Dra Triana Wulandari MSi mengatakan, seminar sejarah ini dimaksudkan untuk menggali pemikiran dari berbagai kalangan untuk memperbarui kebijakan dalam belajar dan pembelajaran sejarah. "Paradigma baru untuk memperbaiki pendidikan kesejarahan di Indonesia, antara lain dengan memperbaiki metode pendidikan kesejarahan, perbaikan kurikulum dan berbagai pelatihan untuk meningkatkan kompetensi guru," katanya.

Seminar diselenggarakan Direktorat Sejarah, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan berkerja sama dengan Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (FIB UGM), Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) dan Perkumpulan Prodi-Prodi Sejarah Seluruh Indonesia (PPSI). (Dev)

BERITA REKOMENDASI