Mendikbud Sebut Indonesia Lahirkan Generasi Hebat 2045

SLEMAN (KRjogja.com) – Kebijakan yang cukup mengagetkan sempat tercetus dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhajir Effendi kala menggantikan menteri sebelumnya Anies Baswedan. Namun demikian, Muhajir meyakinkan bawasanya kebijakan-kebijakan yang diambil saat ini guna mempersiapkan generasi emas Indonesia pada tahun 2045.

Di hadapan masyarakat dalam pembukaan Festival Seni Internasional (FSI) 2016 di P4TK Seni dan Budaya Yogyakarta Senin (21/11/2016) Muhajir menyampaikan sesuai amanah presiden dalam progran Nawacita, Kemendikbud siap mengubah paradigma pendidikan mulai SD hingga SMA/SMK. Disebut Muhajir, selama ini sekolah lebih mementingkan perkembangan sisi akademis hingga melupakan sisi-sisi lain yang sebenarnya tak kalah penting.

"Sekolah seperti mengejar satu sisi, seolah bangga saat muridnya mendapatkan nilai 10 pada mata pelajaran Matematika, tapi mengesampingkan nilai 10 pada pelajaran seni dan olahraga. Pun begitu orangtua, pasti kecewa kalau anaknya dapat 5 di Matematika tapi nilai sempurna di seni, inilah paradigma yang harus diubah," ungkapnya.

Diakui Muhajir, kebijakan penyeimbangan pembelajaran otak kanan dan kiri tersebut tidak bisa dirasakan secara instan dalam dua atau tiga tahun. "Ini investasi jangka panjang kita, dan harapannya bisa dipanen saat usia Indonesia menginjak 100 tahun pada 2045 nanti, kita punya generasi emas yang jauh lebih baik daripada saat ini, lebih baik dari saya atau pak Bupati Sleman ini," imbuhnya.

Penyeimbangan fungsi otak kanan dan kiri menurut Muhajir dilakukan dengan memperhatikan kembali faktor etik, estetik dan kinestetik. "Etiknya terkait tata krama dan unggah ungguh, estetiknya dari cita rasa seperti seni dan kinestetiknya terkait olahraga atau gymnastik, itu yang harus kita tonjolkan lagi," pungkas Muhajir.

Muhajir sendiri sempat mendapatkan tanggapan pro dan kontra dengan wacana kebijakn full day school sesaat setelah diminta presiden menggantikan Anies Baswedan. Namun demikian, kebijakan tersebut masih akan dikaji ulang mengingat adanya dinamika pro kontra di masyarakat. (Fxh)

 

BERITA REKOMENDASI