Menulis Karya Ilmiah Hasil Penelitian, Membawa Manfaat Bagi Masyarakat

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Kebijakan pemerintah meminta kaum intelektual wajib menulis dan menghasilkan karya ilmiah hasil penelitian. Seorang sarjana harus menghasilkan skripsi sebagai tugas akhirnya yang harus dipublikasikan melalui repository atau terbit pada jurnal ilmiah sebagai syarat kelulusannya.

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Pembangunan Nasional ‘Veteran’ Yogyakarta (UPNVY) dan Ketua Umum Asosiasi Penerbit Jurnal Ilmu Komunikasi Indonesia (APJIKI), Dr Puji Lestari MSi mengatakan berdasarkan pengalamannya, penelitian dan penulisan publikasi ilmiah membutuhkan waktu sekitar 3 sampai 12 bulan. Menurutnya menulis itu tidak ada yang sulit sepanjang memiliki kemauan yang kuat, tekun, minat, dan konsisten sesuai roadmap penelitiannya.

“Saat ini dosen dituntut untuk cerdas memilih jurnal atau proceeding tempat menyebarluaskan hasil penelitiannya. Penelitian yang baik harus ditulis dengan tepat agar hasilnya dapat membawa manfaat bagi masyarakat luas,” ungkap Puji Lestari dalam Pelatihan Penulisan Artikel untuk Publikasi di Jurnal Internasional Bereputasi bagi Dosen yang diadakan oleh  APJIKI bekerjasama dengan Universitas Bakrie Jakarta secara virtual, Jumat (24/08/2020).

Dalam menulis artikel, kata Puji Lestari, substansi sangat penting. Baik untuk Jurnal ilmiah atau  proceeding, paling tidak harus mengandung empat hal.

Artikel harus ditulis berdasarkan hasil penelitian, ada landasan teori dan metode seperti  survei, studi kasus, eksperimen, atau pendekatan lainnya yang digunakan untuk menganalisis suatu fenomena, dengan tujuan menemukan teori, konsep, model, kebijakan baru atau menguji teori atau uji model yang sudah ada sebelumnya.

Tidak kalah penting adalah, adanya state of the art (SOTA) atau novelty dari ilmu dan teknologi, yakni kebaruan apa yang  ditawarkan dari penelitian yang  dilakukan. Kebaruan temuan ilmiah tidak hanya mengulang penelitian yang sudah ada sebelumnya, serta mengubah metode dan objek. Selanjutnya, harus memiliki keunikan dari penelitian dibandingkan dengan penelitian lainnya.

Puji Lestari menuturkan, secara umum gaya penulisan memiliki tata keseragaman dalam penulisan seperti tanda baca, penggunaan huruf kapital, miring, tebal, penulisan kata, penggunaan angka atau singkatan yang tepat. Penulisan antar paragraf harus ada ‘jembatan’ kalimat.

“Judul harus mencerminkan temuan penelitian, dan harus efektif, tidak perlu ada subjudul, dengan maksimal 14 kata. Nama penulis dituliskan lengkap tanpa gelar. Nama lembaga juga ditulis lengkap dan tidak boleh disingkat, jangan lupa cantumkan alamat, kode pos, dan nama negara. Penulis korespondensi ditulis secara jelas telepon, faksimile, dan alamat surelnya,” jelas Puji Lestari.

Lebih lanjut, Puji Lestari menjelaskan, metode penelitian harus dituliskan secara rinci. Ada jenis penelitian, objek penelitian, subjek penelitian, teknik pengumpulan data, teknik analisis data, dan uji keabsahan data, bila penelitian kualitatif. Bila penelitian kuantitatif, ada jenis penelitian, objek penelitian, definisi konsep, definisi variabel, indikator, populasi, teknik pengambilan sampel, teknik validitas dan reliabilitas, dan teknik analisis data.

Di bagian pembahasan, hasil penelitian dituliskan secara rinci sesuai tujuan penelitian. Dibahas secara tajam, melalui teori atau konsep bahkan penelitian sebelumnya. Hasil penelitian dan temuan harus dapat menyelesaikan masalah serta menemukan hal yang baru. Dengan cara  membandingkan secara kritis  hasil penelitian lain, serta menguatkan atau mengoreksi temuan sebelumnya.

Workshop ini juga menghadirkan pembicara Prof Dr Rajab Ritonga MSi dari Universitas Prof Dr Moestopo (Beragama). Kegiatan ini bertujuan menambah pengetahuan menulis dan mendorong dosen-dosen dalam meningkatkan penulisan karya ilmiah di Jurnal Internasional Bereputasi dan jurnal terakreditasi. (*)

BERITA REKOMENDASI