Merdeka Belajar Itu, Hakikatnya Kreativitas dan Inovasi

GURU Arif tercenung. Diperhatikan siswa yang sedang mengerjakan latihan soal matematika setelah dirinya menjelaskan. Ada sesuatu yang terasa membosankan. Dari dulu, saat dirinya sekolah, selalu saja demikian setiap pelajaran matematika : dijelaskan, mengerjakan soal dan pembahasan. Ada rasa ingin mengubah suasana yang tidak membosankan. Dan ketika anak-anak menyepakati usulannya, rencana membuat belajar matematika itu menggembirakan, mulai dilakukan.

Maka pelajaran akan diberikan 15 menit teori di awal dan di akhir pembahasan 15 menit. Di tengahnya, pelajaran matematika untuk mengerjakan latihan bisa dilakukan di luar kelas. “Bagi saya yang penting anak-anak bisa suka dulu, belajar matematika,” ungkap Arif Jamali ketika memaparkan pengalaman mengajar di SMA Muhammadiyah 3, beberapa tahun silam.

Suasana terasa lebih menggairahkan belajar anak. Sehingga mereka dengan senang mengikuti pelajaran. Matematika tidak lagi menjadi momok menakutkan, apalagi latihan soalnya boleh dikerjakan di halaman kelas di bawah pohon, di ruang perpustakaan dan lainnya. Bahkan sebagai guru matematika, Arif merasa bisa tidak sekadar menyampaikan angka-angka. Beberapa rumus, ujarnya, bisa saya kaitkan dengan motivasi hidup, budaya dan agama.

“Secara langsung saya memang tidak ditegur dari sekolah, tapi dirasani mungkin iya. Saya dianggap mengajarkan anak belajar tidak tertib, karena mereka belajar seakan tidak serius di kelas dan lainnya,” kenang Arif. Namun dari sini ujarnya saya bisa mengajarkan kejujuran, disiplin, tertib. Karena memang diakui ada yang ‘memanfaatkan kebebasan’ dengan hanya nyontek atau menyalin jawaban teman. Dan itu justru selalu ketahuan.

Cara itu kemudian juga diterapkan di SMAN 5 Yogyakarta, tempatnya mengajar sejak tiga tahun lalu. Upaya membuat matematika tidak menjadi momok, sedikit banyak membuahkan hasil. Hanina, pelajar kelas XII MIPA SMAN 5 Yogya – tempat dimana Arif sekarang mengajar — mengakui hal itu. “Cara mengajar yang tegas namun dekat dengan siswa, sangat menyenangkan. Terutama Pak Arif sering mengizinkan siswa mengerjakan di luar kelas, membiarkan siswa sediki bebas namun tetap bertanggung jawab apa yang telah ditugaskan,” ungkapnya. Menurut Hanina, cara mengajar itu membuatnya lebih mudah memahami matematika.

Siswa lain memberikan apresiasi lewat form angket yang disebarkan guru di akhir pelajaran. “Jujur…… saya suka cara Pak Arif Jamali mengajar. Dari kelas X dulu, saya seperti keong ketika belajar matematika. Sekarang saya mudah paham. Terimakasih pak….”

BERITA REKOMENDASI