Pendidikan ABK Tidak Selamanya Berjalan Mulus

BANTUL,KRJOGJA.com – Program pendidikan untuk smeua khususnya bagi anak berkebutuhan khusus (ABK) di Bantul diprediksi tidak mudah terlaksana. Hingga sekarang ini masih banyak orangtua merasa malu ketika punya berstatus ABK. Hingga kini ada ratusan anak berkebutuhan khusus usia sekolah di Bantul tidak disekolahkan dengan banyak pemicu.

"Sebagai contoh di Kecamatan Dlingo Bantul saja ada sekitar 160 lebih anak berkebutuhan khusus, tetapi yang disekolahkan hanya sekitar 66 anak, " ujar Asek III Pemkab Bantul yang juga Ketua Yayasan Bhakti Putra Mandiri Dlingo Bantul, Totok Sudarto MPd  disela acara ‘ngunduh’ senam di SLB Negeri 2 Bantul, Jumat (9/9/2017). Dalam acara itu juga dihadiri Kepala SLB Negeri 2 Bantul, Hartati SPd MA, Kasi Trantib Kecmaatan Sewon Bambang Suprimantoro.

Totok mengungkapkan, selama ini masih kerap dijumpai orangtua enggan menyekolahkan anaknya karena malu dengan lingkungan. Padahal anak berkebutuhan khusus punya potensi untuk bisa dikembangkan. Menurut Totok, sebenarnya target pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus itu supaya menjadi mandiri. Sehingga ketika dewasa nanti tidak terus tergantung kepada orang lain. Selain itu, anak berkebutuhan khusus bisa masuk ke sekolah reguler inklusi. Namun jika kondisinya serius memang harus masuk di SLB. Kedepan Pemkab Bantul bakal menggencarkan agar anak kerkebutuhan khusus di Bantul semua bisa masuk sekolah.

"Kita dorong semua anak berkebutuhan khusus untuk masuk sekolah, pendidikan ini untuk semua. Orangtua jangan merasa malu. Mereka anak-anak berkebutuhan khusus ini punya potensi yang bisa dikembangkan," ujar Totok.  

Sementara Kepala SLB N 2 Bantul, Hartati SPd MA mengatakan, selain senam juga diselenggarakan pameran dan bazar karya siswa. Dijelaskan untuk  menangani ABK memang tidak mudah, tetapi semua harus dilakukan dengan keikhlasan semua bisa dilakukan. Sehingga siswa mandiri. Dalam acara itu juga dihadiri perangkat desa dan kecematan, guru SMP di Kecamatan Sewon.(Roy)

BERITA REKOMENDASI