PPDB SMA dan SMK, Harus Jadi Pembelajaran Orang Tua

MAGELANG, KRJOGJA.com – Proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tingkat SMP tahun ini dinilai cukup menguras energi. Kegiatan ini hendaknya dapat dijadikan sebagai pelajaran dalam pelaksanaan PPDB tingkat SMA/SMK yang sebentar lagi akan dilaksanakan.

"Mudah-mudahan pengalaman PPDB SMP yang lalu bisa menjadi pelajaran, motivasi untuk mengantisipasi, sehingga tidak terjadi kagalauan," kata Wakil Walikota Magelang Dra Windarti Agustina saat menghadiri acara silaturahim halal bihalal yang dilaksanakan di halaman Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Magelang, Kamis (13/6/2019).

Wakil Walikota Magelang juga meminta dukungan semua pihak karena PPDB merupakan pekerjaan besar yang berkaitan dengan kualitas pendidikan dan masa depan anak-anak di Kota Magelang dan sekitarnya. Meskipun PPDB untuk jenjang SMA/SMK sendiri merupakan kewenangan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, namun Pemerintah Kota Magelang juga akan dilibatkan.

"Beberapa saat lagi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan akan punya gawe besar lagi, walaupun ini kewenangan Provinsi (Jawa Tengah), tetapi mau tidak mau kita akan dilibatkan. Mohon dukungan semua pihak," katanya.

Beberapa persoalan yang sempat terjadi pada PPDB SMP lalu, menurut Wakil Walikota Magelang, diantaranya berkaitan dengan surat keterangan domisili. Pemerintah Kota Magelang pun telah melakukan antisipasi agar permasalahan serupa bisa diatasi dengan baik.

"Kalau PPDB SMP sempat ada persoalan berkaitan dengan surat keterangan domisili, itu yang akan menjadi hal yang cukup rumit. Tetapi insya Allah dari pengalaman PPDB SMP, kita bisa tangani itu di PPDB SMA/SMK nanti," katanya.

Kepala Disdikbud Kota Magelang Taufiq Nurbakin SPd MPd mengatakan dinamika pendidikan saat ini sudah berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, khususnya PPDB yang tidak lagi memprioritaskan nilai tapi domisili. "Ada banyak pertanyaan, PPDB kok ora nganggo biji (nilai), itu yang harus kita lakukan karena memang regulasinya seperti itu. Namun untuk jalur prestasi tetap menggunakan nilai, yakni berdasarkan nilai dari piagam-piagam yang dimiliki," kata Taufiq.

Nilai ujian sebetulnya dipergunakan untuk pemetaan persebaran mutu pendidikan. Ia mencontohkan, nilai UN SMA yang tidak dipergunakan saat melanjutkan ke jenjang Perguruan Tinggi (PT), tetapi untuk dipergunakan sebagai indikator-indikator tertentu.

"Karena pada dasarnya prestasi anak tidak hanya diukur dari nilai empat mata pelajaran. Barangkali ada anak yang nilai matematika nilainya 10, tapi tidak bisa memencet keyboard. Sehingga yang saat ini dikembangkan di sekolah adalah ekstrakulikuler, disamping kegiatan akademik lainnya," tambahnya.(Tha)

 

 

BERITA REKOMENDASI