Prof Sumandyo Lakukan Riset di University of Michigan

YOGYA, KRJOGJA.com – Prof Dr Y Sumandiyo Hadi, dosen senior Jurusan Tari Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, ke universitas tersebut. Sumandiyo akan melakukan International Research Collaboration Schema bekerja sama dengan Center for Southeast Asian Studies (CSEAS) University of Michigan, Ann Arbor, Amerika Serikat.

Keberangkatan Sumandiyo setelah mendapat tugas dari Pemerintah Indonesia melalui Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), Direktorat Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan, Kementerian Riset Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) untuk merespons kebijakan dana federal pemerintahan Donald Trump yang banyak mengurangi segala kegiatan kebudayaan non-Amerika.

"Tujuan riset ini ingin melihat sejauh mana eksistensi dan perkembangan program pengajaran musik gamelan khususnya untuk pertunjukan tari Jawa di universitas tersebut," kata Sumandiyo kepada KRjogja.com di kampus ISI Yogyakarta, Rabu (14/3/2018).

Sumandiyo berangkat ke AS Senin (19/3/2018) bersama Dr Sumaryono, juga dari ISI Yogyakarta, Sumandiyo akan berangkat ke AS. Di University of Michigan, melakukan penelitian sekaligus berpartisipasi langsung (participation observation) bersama mahasiswa dan dosen kelompok gamelan dengan mengadakan workshop gamelan dan tari, serta memberikan lecturer demonstration.
Sumandiyo juga akan tampil menari Klana Topeng Gagah dengan iringan Bendrong ndhawah Ladrang Kenceng Slendro Pathet Manyura yang sudah direvitalisasi olehnya sendiri dalam acara Winter Concert  di Hill-Auditorium, University of Michigan, 26 Maret. Tampil di salah satu concert hall yang megah dan sakral, dosen berusia 69 tahun tersebut akan diiringi kelompok gamelan dari mahasiswa universitas tersebut dengan pengendang Sumaryono.

Di universitas tersebut, 38 tahun lalu Sumandyo pernah menjadi visiting student dan visiting lecturer serta membuat konser gamelan dan tari Jawa bersama mahasiswa kelompok studi gamelan. University of Michigan, program gamelan sudah ada sejak 1966, setelah pemberiah gelar Doktor Honoris Causa untuk Presiden RI, Soekarno (1957). Seperangkat gamelan dengan nama Kanjeng Kyai Telaga Madu dibeli dari Jawa, terbaik di antara 10 perguruan tinggi besar di negara tersebut yang mempunyai gamelan Jawa serta mengembangkan program pendidikan dan setiap tahun mengadakan konser gamelan dan tari.

Sumandiyo merasa prihatin dengan berkurangnya dana untuk kegiatan kebudayaan di negara yang sejumlah universitasnya memiliki pusat studi Asia Tenggara tersebut. Meski demikian, Sumandiyo tak terlalu khawatir kebudayaan Jawa akan berakhir tragis di AS karena pemerintah telah melakukan antisipasi antara lain dengan penelitian ini.

"Hasil penelitian akan dipublikasikan dalam jurnal internasional bereputasi untuk mendukung kebijakan MoU antara Kemenristekdikti dengan University of Michigan,  antara lain berupa program-program pertukaran riset maupun pengiriman dosen untuk mengajar bidang seni seperti gamelan dan tari di universitas tersebut," tambah Sumandiyo yang juga memimpin Akademi Komunitas Negeri Seni dan Budaya Yogyakarta.(Ewp)

 

BERITA REKOMENDASI