Program Pengabdian Kepada Masyarakat DLIKES SV UGM, Putus Mata Rantai Penyebaran Demam Berdarah di Pengasih

Editor: Ivan Aditya

KULONPROGO, KRJOGJA.com – Departemen Layanan dan Informasi Kesehatan Vokasi UGM melaksanakan program pengabdian kepada masyarakat di Kalurahan Pengasih Kulonprogo. Kegiatan yang telah digelar sejak Agustus lalu menitikberatkan akan pencegahan demam berdarah mandiri oleh masyarakat.

Ketua tim program pengabdian kepada masyarakat Departemen Layanan dan Informasi Kesehatan Vokasi UGM, Dina Fitriana Rosyada SKM MKL mengatakan pemilihan Pengasih sebagai lokasi kegiatan karena kalurahan ini memiliki angka penderita demam berdarah yang cukup tinggi di Kulonprogo. Kehadiran program ini diharapkan dapat menekan angka penderita demam berdarah di wilaya ini.

“Kami berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Kulonprogo dan menyatakan jika Pengasih memang tinggi angka demam berdarahnya. Setelah kami terjun ke sini memang banyak hal yang harus debenahi dan dibangkitkan, terutama perihal kesadan masyarakat,” jelas Dina Fitriana Rosyada disela kegiatan penyerahan hadiah kepada warga berprestasi yang dilaksanakan dengan protokol pencegahan Covid-19 di Kantor Kalurahan Pengasih, Jumat (04/09/2020).

Dina Fitriana Rosyada mengungkapkan, ia dan tim melaksanakan program pengabdian kepada masyarakat di Pengasih selama tiga tahun dan saat ini memasuki tahun kedua. Pada tahun pertama yakni 2019 kegiatan yang dicanangkan yakni mengawali dengan melakukan penyuluhan dan sekaligus pemberian 1.000 bibit bibit serih wangi, lavender, geranium serta alat penyulingan.

“Tahun lalu melakukan tahapan pertama yakni memberikan bibt dan alat. Tujuan kami agar masyarakat membudidayakan dan mengolah bibit-bibit tanaman anti nyamut tersebut untuk kemudian diolah menjadi spay pengusir nyamuk,” tambahnya.

Pada tahun tersebut pertama responnya sangat bagus, terbukti mereka sukses memproduksi spray pengusir nyamuk yang dapat dimanfaatkan untuk masyarakat sendiri. Kelompok wanita tani yang digerakkan juga mampu mebudidayakan bibit tanaman anti nyamuk sehingga masing-masing keluarga dapat memilik dan menanam tanaman tersebut.

Tahun ini program yang diusung yakni menggerakkan masyarakat untuk dapat membuat sendiri sabun anti nyamuk. Walau masa pandemi namun tim dan warga tak surut semangat untuk dapat merampungkan target yang telah dicanangkan.

“Memang ada kendala terkait situasi pandemi, yakni kami tak bisa melakukan penyuluhan dengan mengumpulkan masyarakat. Kami kemudian mengambil inisiatif penyuluhan tatap muka dilakukan dengan secara virtual dengan menggunakan Google Meet,” ungkap Dina Fitriana Rosyada.

Karena berkomikasi secara daring, para anggota dari tim UGM ini juga mengawalinya dengan mengajarkan masyarakat untuk dapat mengoperasikan Google Meet agar komunikasi serta pesan yang akan dilakukan saat penyuluhan virtual dapat tersampaikan. Masyarakat utamanya dari kalangan ibu-ibu juga diajarkan membuat vlog yang nantinya akan dimanfaatkan untuk memantau perkembangan kegiatan mereka sehari-hari.

“Kami juga mengajarkan agar masyarakat dapat menjadi juru pemantau jentik (Jumantik) sendiri. Diadakan pula lomba vlog ibu-ibu Jumantik agar kami dapat memantu sejauh mana kemampuan mereka dapat mengenali jentik jenis Aedes aegypti,” terangnya.

Dina Fitriana Rosyada menambahkan, tahun ketiga atau pada 2021 mendatang tim akan datang kembali ke Pengasih ini dengan program lain. Beberapa program yang telah direncanakan yakni mengimplementasikan apa yang telah diperoleh dalam dua tahun terakhir.

“Tahun pertama bisa dikatakan kami melakukan pengenalan kepada masyarakat, kemudian tahun kedua kami melakukan produksi dan tahun ketiga melakukan pemasaran produk yang telah dihasilkan. Jadi selain dapat bermanfaat nantinya juga dapat menghasilkan sesuatu secara ekonomi untuk menunjang kesejahteraan masyarakat. Namun tujuannya utamanya yakni Pengasih ini dapat bebas dari demam berdarah,” ungkapnya.

Sementara itu Lurah Pengasih, Djoko Purwanto mengapresiasi program pengabdian kepada masyarakat ini. Apa yang dilakukan tim dari UGM sangat membantu dalam pembangkitkan semangat dan mengedukasi masyarakat.

Ia menyadari memang wilayah Pengasih memiliki angka penderita demam berdarah cukup tinggi pada tiap musimnya. Wilayah yang dekat dengan ibukota kabupaten dan banyaknya aliran air yang sering terhambat saat musim penghujan dianggap sebagai faktor tingginya angka pasien demam berdaran di kalurahan ini.

Djoko Purwanto berharap program tersebut tak berhenti di sini namun tetap ada kelanjutannya dengan sasaran lebih luas lagi. “Adanya kerjasama akademika harapannya bisa mendampingi secara berjenjang. Mereka sudah menyentuh tingkat pedukuhan, bisa dilanjutkan lagi tingkat selanjutnya,” harap Djoko Purwanto. (Van)

UGM

BERITA REKOMENDASI