Regenerasi Petani Mandeg, Begini Jawaban Akademisi

SLEMAN, KRJOGJA.com – Kekhawatiran mandegnya regenerasi petani yang berimplikasi pada melemahnya ketahanan pangan nasional 20-35 tahun mendatang jadi perbincangan hangat beberapa waktu terakhir. Bahkan kurangnya lulusan pertanian yang terjun ke dunia tani ditambah persentase minim pemuda yang berminat bercocok tanam menambah besar kekhawatiran tersebut.

Namun, para akademisi fakultas pertanian di universitas ternama Indonesia memilih santai menyikapi kekhawatiran tersebut. Hal tersebut disampaikan dihadapan wartawan saat berbincang di sela dialog bersama fakultas pertanian se-Indonesia bersama Kementrian Pertanian di Crystal Lotus Hotel, Kamis (7/9/2017) malam.

Dr Ir Damanhuri MS, Wakil Dekan II Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Malang mengungkap saat ini kementrian bersama kampus tengah mengembangkan Program Wirausaha Muda Pertanian (PWMP) yang target utamanya para mahasiswa fakultas Pertanian. Program tersebut memberikan stimulus berupa modal dan pendampingan pada kelompok anak muda untuk bertani baik secara on farm (terjun langsung ke lahan) maupun off farm (pengembangan dan pemasaran produk).

"Di universitas seluruh Indonesia totalnya ada 500 lebih kelompok yang termasuk dalam program ini, Universitas Brawijaya kebagian 35 dan saat ini masih dalam tahap pengembangan. Mahasiswa ini melaksanakan program dengan berbagai macam kreativitas namun tetap dalam kategori pertanian," ungkapnya.

Selain itu, adanya kurikulum yang dirasakan berubah lebih baik paling tidak tiga tahun terakhir membuat akademisi merasa percaya diri pertanian di Indonesia tidak akan menurun kedepan. "Tiga tahun terakhir mahasiswa pertanian kami mencapai 1000 untuk satu angkatan dan mereka mendapatkan kurikulum yang mengarahkan pada modernisasi sistem pertanian baik dari hulu ke hilir," sambung Damanhuri.

Sementara, Dr Ir Agus Sapti MSi Dekan Fakultas Pertanian Universitas Syahkuala Aceh mengungkap bahwa perspektif tentang petani harus mulai diubah saat ini. Dengan adanya teknologi yang diperoleh saat mempelajari pertanian di dunia kampus, maka para petani kedepan dipastikan bekerja dengan lebih cerdas tanpa harus berpanasan menggunakan cangkul di lahan.

"Menurut saya, definisi petani harus diubah karena saat ini teknologi yang kita adaptasi semakin modern. Kedepan tidak penting lagi banyaknya petani namun kualitas pengolahan untuk mendapat hasil maksimal, itu sedang dipersiapkan para petani muda yang belajar di fakultas pertanian," terangnya.

Kekhawatiran yang muncul belakangan akan mandegnya regenerasi petani menurut Agus lebih dikarenakan stereotype pengamat menilai pertanian hanya pada mencangkul di sawah dengan berpanasan yang saat ini hanya dilakukan petani konfensional. "Padahal banyak anak muda yang bertani memanfaatkan teknologi misalnya hidroponik, padi organik dengan memanfaatkan buangan unggas sebagai pupuk, pertanian kita bakal menyesuaikan trend anak muda. Besok mungkin tak ada lagi memang yang mencangkul tapi duduk di traktor dengan headset dan celana jeans menggarap sawah, ini menurut kami di tingkat kampus," ungkapnya lagi. (Fxh)

BERITA REKOMENDASI