Rommy Minta Pemuda Manfaatkan Bonus Demografi

SLEMAN, KRJOGJA.com – Ketua DPP PPP Muchammad Romahurmusiy atau yang akrab di sapa Rommy menjadi pembicara utama di agenda konsolidasi nasional mahasiswa pascasarjana Indonesia bertema "Kedaulatan Tenaga Kerja di Indonesia" di Gedung Lengkung UGM Jumat (15/9/2017). Di hadapan para mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi, Rommy menekankan pentingnya memanfaatkan bonus demografi yang bakal didapatkan Indonesia hingga puncaknya tahun 2020-2030.

Rommy mengatakan bawasanya paling tidak ada dua negara yang bakal mendapat bonus demografi yakni Amerika Serikat dan Indonesia di mana persentase warga besar bakal diisi rentang usia 20 hingga 64 tahun. Hal tersebut membuat Indonesia digadang-gadang menjadi satu negara yang bakal bergerak semakin maju dan disebut masuk masa-masa keemasan.

"Kita sudah mulai dan saat mencapai puncak bonus demografi yakni dua orang bekerja membiayai satu orang tak bekerja (usia 0-19 tahun) tentu akan menjadi keuntungan besar untuk Indonesia, dengan catatan kita bisa memanfaatkan karena sampai 2017 ini baru 5 persen saja warga Indonesia yang memiliki ijazah S1 hingga S3. Kalau kita gagal di sini (masa puncak bonus demografi) maka Indonesia kehilangan daya saing karena masa itulah puncak kejayaan kita," ungkapnya.

Saat ini diakui Rommy, masih banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan untuk memanfaatkan bonus demografi yang bakal didapatkan Indonesia termasuk di sektor ekonomi dan sumber saya manusia. Dalam hal ekspor misalnya, ekspor Indonesia masih didominasi barang mentah yang secara nilai ekonomis jauh dibanding negara lain di kawasan Asia Tenggara.

Dalam diskusi tanya jawab, muncul pula pertanyaan bernada pesimis untuk dunia perpolitikan Indonesia dari beberapa mahasiswa yang turut dalam acara tersebut. Padahal, menurut Ketua DPP PPP ini, perpolitikan memegang peran penting dan menjadi hal yang wajib diperhatikan oleh anak-anak muda (generasi x dan y) di mana nantinya mereka bakal menjadi pelaku perjalanan bangsa saat Indonesia menikmati bonus demografi.

"Mau tidak mau dan suka tidak suka ketika negara kita masih menganut sistem demokrasi, maka politisi yang memegang peran penting. Kalau generasi muda semakin acuh tak ingin terlibat dan ikut memperbaiki maka ya tetap pada akhirnya politisi juga yang menjalankan negara, menentukan arah kebijakan, tinggal bagaimana kita ingin bersikap apakah mau acuh atau ikut terlibat dan melakukan perubahan," sambungnya. (Fxh)

UGM

BERITA REKOMENDASI