Seabad SD Marsudirini, Bentuk Karakter dengan Pementasan Wayang

YOGYA, KRJOGJA.com –  Usia 100 tahun tak bisa dicapai dengan mudah. Banyak hal dilalui untuk mencapai umur sepanjang itu. Begitu pula yang dialami SD Marsudirini Yogyakarta yang kini berusia seabad. Sekolah ini terus menempa siswa supaya memegang teguh filsofi seperti yang ada pada tokoh-tokoh pewayangan.
Pembentukan karekter siswa dimulai sejak anak-anak menginjakkan kaki di sekolah yang berdiri pada 28 Juni 1920 dan bernama Sekolah Dasar Intemerata. Kelak, sekolah inilah yang menjadi cikal bakal berdirinya SD Marsudirini yang berdiri kokoh sampai sekarang dengan bangunan bergaya gothic.
”Cerita wayang menggambarkan kehidupan manusia sehari-hari, ada tokoh baik, berbudi luhur, andhap asor, tegas, jujur, teguh pada pendirian dan sebaliknya. Ini bisa menjadi contoh bagi anak didik sebagai bagian pembentukan karakter siswa,” tutur Kepala Sekolah SD Marsudirini, FX Oktaf Laudensius SSi.
Komitmen mengenalkan tokoh-tokoh pewayangan serta mengenalkan filosofi busana tradisional disadari sepenuhnya agar para siswa tidak melupakan jati diri. Kelak meskipun meneruskan pendidikan ke jenjang lebih tinggi tetapi tetap membumi sebagai orang yang hidup bersama dengan suku lain, agama yang berbeda, etnis yang tidak sama dan berada dalam kebersamaan penuh kerukunan di Indonesia.
Tumbuhkan Solidaritas
Sekolah tak lupa mengenalkan tokoh wayang yang terkenal dengan cerita-cerita lucunya yakni Punakawan. Anak-anak mengenal tokoh yang sering mengundang gelak tawa itu sebagai penggambaran keceriaan. Anak-anak yang selalu ceria, gembira menjalani kehidupan dalam kondisi apapun akan selalu penuh harapan.
”Keceriaan, kegembiraan perlu dibangun dan ditumbuhkan dalam diri anak-anak dan keluarga supaya mereka selalu menjalani kehidupan dengan penuh pengharapan meskipun kadang-kadang berada dalam situasi yang sulit dan tidak bersahabat,” papar Oktaf yang menggagas maskot seabad sekolah dengan gambaran burung gelatik lokal berparuh merah muda.
Burung gelatik bernama ilmiah Padda oryzivora ini termasuk langka dan bersifat pengalah, setia dan senang berkelompok. Pengenalan wayang dan maskot burung gelatik sebagai bagian meningkatkan solidaritas kemanusiaan pada sesama tanpa memandang latar belakang suku, agama, ras dan antargolongan.
Oktaf berharap para siswa usai lulus terus memegang prinsip tersebut untuk bekal menjalani kehidupan yang makin kompleks di rumah besar bersama, Indonesia. (*)

BERITA REKOMENDASI