Spiritualisme Akuntansi, Apa yang Dimaksud?

YOGYA, KRJOGJA.com – Program Studi Akuntansi Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Yogyakarta menggelar Kuliah Umum bertajuk 'Accounting Spiritualism' di Kampus UNU Jalan Lowanu Yogyakarta, Sabtu (28/4/2018).  Kegiatan ini merupakan hasil kerjasama dengan Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) wilayah Yogyakarta.

"Kegiatan ini juga merupakan bagian dari program Goes to Campus IAI Yogyakarta," tutur pengurus IAI Yogyakarta, Januar Eko Prasetio SE MSi Ak CA sela acara.

Menurut Januar Eko Prasetio yang juga Wakil Dekan II Fakultas Ekonomi UPN Veteran Yogyakarta, selama ini banyak terjadi praktik kecurangan (fraud) dalam bidang akuntansi terutama yang disengaja dan dilegalkan. Hal itu lebih disebabkan pelaku akuntansi lebih mementingkan keuntungan jangka pendek dan sesaat.

"Hanya memikirkan bagaimana mendongrak keuntungan maupun laba sebanyak mungkin, tanpa melihat nilai-nilai spiritualitas. Hal itu mengapa kemudian, banyak perusahaan dengan santainya melakukan manipulasi laporan data keuangan hingga perpajakan hanya sekedar untuk meraih profit sebanyak mungkin. Inilah kemudian yang disebut nalar kapitalistik atau sifat serakah yang masih bersemayam dalam nalar," tegasnya.

Sifat serakah yang menyebabkan seseorang selalu berwatak untuk meraih keuntungan besar dengan modal sekecil mungkin. Sifat itu pula yang seringkali menyebakan manusia melegalkan praktik kolusi hingga korupsi hanya untuk meraih laba atau profit sebanyak mungkin.

“Oleh sebab itu, ilmu akuntansi spritualis yang masih tampak abstrak harus terus dikampanyekan agar laba atau profit yang diraih dengan jalan yang benar dan diridhoi Allah SWT. Dengan kata lain, prinsip-prinsip spritualis dalam akuntansi mulai dari diri kita
sendiri harus terus dikedepankan agar dapat menjadi penuntun untuk mengerem paradigma kapitalistik dan materialistik yang selalu bersemayam dalam nalar pelaku akuntansi," imbuhnya.

Sementara Kepala Prodi Akuntansi UNU Yogyakarta Anik Puji Handayani SE MSi, kegiatan ini ditujukan untuk menggali nilai-nilai spritual dalam bidang akuntansi. Sebab selama ini akuntansi modern lebih bersifat materialistik sehingga memarjinalkan nilai-nilai spiritualitas. Selain itu akuntansi modern lebih mengabaikan dua aspek penting, yaitu lingkungan dan sosial sehingga sering gagal dalam menggambarkan realitas bisnis yang semakin kompleks.

"Kesannya hanya berorientasi melaporkan profit untuk kepentingan pemilik modal atau pemegang saham semata. Oleh karena itu dalam kuliah umum ini kami berharap dapat memberikan kontribusi keilmuan bagi dunia akuntansi," ucapnya. (Feb)

BERITA REKOMENDASI