Wisata Edukasi Berbasis Kampus Dengan Teknologi Digital

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Di era informasi yang semakin cepat, diperlukan paradigma baru kampus. Selain sebagai tempat civitas akademika untuk menimba ilmu, pertemuan ilmiah dan diskusi akademik, kampus dapat dikembangkan menjadi salah satu obyek wisata, yakni wisata edukasi.

Observatorium Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta diproyeksikan bisa menjadi tempat wisata edukasi yang menarik dalam hal pertunjukan teater bintang dan kerjasama penelitian terkait ilmu astronomi. Itu disampaikan Tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) UAD Arfiani Nur Khusna ST MKom, Yudhiakto Pramudya PhD dan Ulinnuha Yudiansa Putra SE MAcc Ak, saat mempromosikan ‘Layanan Wisata Edukasi Observatorium Berbasis Kampus’ melalui zoom, Sabtu (25/07/2020) yang diikuti 100 peserta dari berbagai wilayah Indonesia maupun luar negeri seperti Malaysia.

Ketua TIM PKM UAD Arfiani menuturkan, kegiatan ini merupakan salah satu rangkaian dari kegiatan PKM melalui skema Program Pengembangan Usaha Produk Intelektual Kampus (PPUPIK) yang didanai Kemristek/BRIN, dari Maret hingga Agustus 2020. Kegiatan yang bekerjasama dengan Pusat Studi Astronomi (Pastron) UAD ini melakukan terobosan baru, yakni ‘Layanan dan Produk Disabilitas Dalam Pengamatan Bintang Pada Observatorium UAD’.

“Wisata edukasi merupakan perjalanan wisata yang memiliki nilai tambah edukasi. Tidak sekadar berwisata, tetapi juga bertujuan menambah nilai edukasi bagi wisatawan,” ujar Arfiani, melalui keterangan tertulis, Selasa (28/07/2020).

Menurut Arfiani, jika biasanya tujuan wisata edukasi adalah tempat seperti kawasan perkebunan, kebun binatang, dan museum, yang memiliki nilai tambah sebagai sebuah area wisata, maka wisata edukasi Obsevatorium UAD bisa menjadi alternatif destinasi wisata baru. “Ketika kampus menjadi tempat wisata maka kampus akan terbuka untuk masyarakat umum, tidak hanya menjadi milik civitas akademika,” ungkap Arfiani.

Arfiani menjelaskan, UAD saat ini memiliki Observatorium dengan peralatan yang memadai untuk melakukan penelitian dosen dan mahasiswa. Observatorium UAD juga fokus membuat alat atau media pembelajaran astronomi untuk para penyandang disabilitas.

“Meskipun saat ini Observatorium UAD masih tutup untuk kunjungan offline karena pandemi Covid-19, namun peserta bisa memaklumi,” terang Arfiani.

Kedepan, Arfiani mengharapkan kegiatan layanan Observatorium UAD yang bersifat online seperti ini akan terus dilakukan dan dibenahi termasuk penggunaan teknologi digital, yakni pengembangan virtual tour.”Diharapkan masyarakat umum menjadi semakin tertarik untuk berwisata dan menambah ilmu terkait astronomi,” jelas Arfiani. (*)

BERITA REKOMENDASI