Berkolaborasi dengan Karang Taruna, KKN UAA di Dusun Kalakijo Membuat Inovasi Pembelajaran Sekolah Alam

SELAIN homeschooling, salah satu sekolah alternatif lainnya yang kini terus dikembangkan adalah sekolah alam. Sekolah alam merupakan penyampaian pendidikan luar ruangan dimana siswa mengunjungi ruang alam untuk belajar keterampilan pribadi, sosial dan teknis.

Model pemelajaran ini telah didefinisikan sebagai “proses pemelajaran yang membuka kesempatan kepada anak-anak, remaja, dan dewasa untuk mencapai dan mengembangkan kepercayaan diri melalui pembelajaran langsung di lingkungan alam”. Mahasiswa KKN-T UAA kelompok 8 Dusun Kalakijo ysng terdiri dari berbagai macam prodi seperti Gizi, PAI, PSY, ESY, dan PGSD yang dibimbing oleh dosen Febrian Wahyu Wibowo, S.E.,M.E selaku Dewan Pembimbing Lapangan (DPL) membuat program kerja sekolah alam agar anak dapat memaknai kehidupan yang apaadanya di alam terbuka.

“Kegiatan ini dilaksanakan setiap hari minggu pukul 08.00 WIB dengan berbagai macam kegiatan seperti menari dan permainan tradisional yang dikaitkan dengan ilmu pengetahuan. Kegiatan ini dilatar belakangi oleh anak-anak di Dusun Kalakijo yang sering menghabiskan waktu untuk bermain game, sehingga kami tertarik untuk membuat inovasi pembelajaran sekolah alam. Sekolah alam ini didirikan di area outbound yang tidak digunakan ketika masa pandemi,” jelas Febrian Wahyu.

Kegiatan ini dikolaborasikan bersama pemuda karang taruna di Dusun Kalakijo agar ketika kami selesai masa KKN-T pemuda-pemudi bisa melanjutkan pembelajaran sekolah alam ini dengan penuh antusias. Selama pembelajaran sekolah alam ini berlangsung anak-anak dibatasi menggunakan gadget untuk melatih mereka memerdekakan dirinya, belajar apa yang mereka sukai dan menemukan pengetahuannya sendiri kerena cara belajar dan pengetahuan yang dibutuhkan oleh tiap anak itu berbeda-beda.

“Sekolah itu harus kritis, kalau enggak nanti kayak sekolah gajah. Gajah dulu kan ngamuk pas hutan mereka dirusak, eh setelah didik, sekarang mau disuruh ngangkutin gelondongan kayu atau main sirkus. Kalo gak kritis kita cuma akan jadi buruh-buruh aja. Tidak punya inisiatif, gak punya keterampilan, gak punya ciri khas masing-masing,” ucap salah satu pelopor sekolah alam di Yogya.(*)

BERITA REKOMENDASI