Cegah Stunting dengan Optimalkan 8.000 HPK, Dosen UNS dan Unriyo Menginisiasi “Remaja Bergerak”

Editor: Ivan Aditya

GUNUNGKIDUL, KRJOGJA.com – Dalam rangka mendukung upaya penemuan dini kasus stunting selama 1000 HPK dan pencegahannya pada 8000 HPK di Kabupaten Gunungkidul Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, dosen Universitas Sebelas Maret (UNS) bersama Universitas Respati Yogyakarta (UNRIYO) menggelar Workshop Capacity Building dan Focus Group Discussion (FGD) “Remaja Bergerak” di Kalurahan Tegalrejo, Kepanewon Gedangsari, Kabupaten Gunungkidul selama 4 hari (22-23 Oktober 2021 dan 29 dan 30 Oktober 2021). Kegiatan tersebut pada masing-masing harinya terbagi dalam 2 batch yaitu pagi dan siang guna mengurangi kerumunan peerta dan sebagai salah satu penerapan prokes dalam situasi pandemi COVID-19.

Workshop Capacity Building Remaja Bergerak ini merupakan rangkaian penelitian yang diinisiasi oleh tim peneliti dari UNS (Hardiningsih, SST., M.Kes. selaku ketua tim peneliti dan Fresthy Astrika Yunita, SST., M.Kes. selaku anggota peneliti) serta Universitas Respati Yogyakarta (Giyawati Yulilania Okinarum, S.ST., M.Keb. dan Afroh Fauziah sebagai anggota peneliti) yang didanai dari hibah Kemendikbuk-Ristek dalam Skema Flagship Prioritas Riset Nasional Pendidikan Tinggi.

Tim Peneliti Remaja Bergerak, Giyawati Yulilania Okinarum, S.ST., M.Keb.,dalam sambutannya mengatakan, dalam mencegah stunting diperlukan upaya melalui pemberdayaan masyarakat secara holistik bio-psiko-sosial, sasarannya bayi hingga dewasa. Workshop capacity building ini memberikan bekal pengetahuan dan keterampilan pada remaja dalam penemuan dini stunting pada 1.000 HPK dan pencegahannya dalam 8000 HPK melalui website yang telah dikembangkan oleh tim peneliti.

“Remaja di Kalurahan Tegalrejo juga digerakkan menjadi kader dalam melaporkan kejadian stunting dan pencegahannya di wilayah tempat tinggalnya serta dilatih dalam membuat pangan fungsional bernutrisi tinggi seperti nugget kelor, pangsit ayam kelor, dan wedang jahe kelor,” jelasnya.

“Pelaksanaan Workshop ini dan FGD patut dibanggakan karena perannya yang sangat penting dalam gerakan cegah stunting 8.000 HPK di Kalurahan Tegalrejo, Kepanewon Gedangsari, Kabupaten Gunungkidul,” ujar Sugiyanto, Carik Kalurahan Tegalrejo dalam pembukaan dan penutupan kegiatan workshop dihadapan para remaja dan ibu kader yang hadir di wilayah Kalurahan Tegalrejo, Kapanewon Gedangsari (22/10/2021 dan 30/10/2021).

Kegiatan Remaja Bergerak memberikan informasi baru mengenai kondisi stunting secara holistik, menurut Valentina salah satu remaja peserta Workshop Capacity Building, ia berharap agenda ini dapat diselenggarakan di seluruh Kepanewon di Kabupaten Gunungkidul karena manfaat yang ia rasakan begitu banyak terutama dalam hal pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh.

Dewi Setiyaningsih, S.Gz selaku nutrisionis Puskesmas Gedangsari 2, menyampaikan dalam wawancaranya secara terpisah bahwa kasus stunting di Kalurahan Tegalrejo, Kepanewon Gedangsari ini merupakan yang tertinggi yaitu mencapai 21,6%. Konsep 8000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) yang diinisiasi oleh tim peneliti dengan menggerakkan remaja merupakan sebuah terobosan baru yang dibutuhkan dalam rangka percepatan penurunan stunting di Kabupaten Gunung Kidul.

“Selama ini program 1.000 HPK saja yang sudah ada PerGub nya di Kabupaten Gunungkidul. Dengan adanya gerakan dari Remaja Bergerak 8.000 HPK ini, kita akan memutus kemunduran dan menyongsong generasi yang lebih baik, tentunya dengan upaya yang dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan,” pungkasnya.

Konsep 8000 HPK diawali sejak fase pertama usia 5-9 tahun, ketika potensi munculnya kejadian penyakit infeksi dan kekurangan gizi masih menjadi masalah utama yang menganggu tumbuh kembang. Kemudian diikuti oleh fase kedua pada usia 10-14 tahun, saat tubuh mengalami percepatan pertumbuhan, dan yang terakhir pada fase usia 15-19 tahun, yang dibutuhkan intervensi untuk mendukung kematangan otak, keterlibatan diaktifitas sosial serta pengendalian emosi. (*)

BERITA REKOMENDASI