Jurusan Arsitektur UII Gelar Sakapari #7

Editor: Ivan Aditya

SLEMAN, KRJOGJA.com – Heritage atau cagar budaya harus terus dilestarikan. Bukan hanya sebagai benda museum saya yang hanya dipertahankan keasliannya, namun juga harus memberikan manfaat bagi kehidupan sosial dan ekonomi dimana heritage itu berada.

Hal itu dikemukakan Ketua Jurusan Arsitektur UII, Noor Cholis Idham, Ph.D., IAI, dalam SAKAPARI 7: Seminar Karya dan Pameran Arsitektur Indonesia 7 in Collaboration with Laboratory of Form and Place Making yang diadakan Jurusan Arsitektur Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, Sabtu (20/02/2021). Seminar ini mengangkat tema dalam ‘Heritage Management in the Time of Crisis’.

“Yang tepenting heritage itu ke depan harus dapat diwariskan dan dilimpahkan kepada generasi kita selanjutnya agar mereka juga dapat mengambil manfaat dari yang ditinggalkan kita,” kata Noor Cholis Idham dalam seminar yang digelar secara daring tersebut.

Ia mengatakan pandemi Covid-19 yang melanda negeri ini sudah mengubah sendi-sendi kehidupan, termasuk di dalamnya kondisi pengelolaan warisan budaya. Padahal di tanah air ini terdapat banyak heritage yang didalamnya tentu perlu dijaga keberadaannya.

“Keberadaan warisan budaya dari pendahulu kita itu harus kita jaga untuk bangsa ini dan anak cucu kita kelak kemudian hari. Semua itu penting agar tetap bisa sebesar-besarnya bagi kemakmuran dan kelangsungan hajat hidup orang di negara ini,” tambahnya.

Guru Besar Universitas Brawijaya, Prof. Antariksa dalam kesempatan ini menegaskan jika suatu bangunan heritage sudah hancur, kemungkinan besar tidak bisa direkonstruksi kembali. Hal itu karena bahannya dan struktur bangunannya sudah berubah.

“Kalau kita perhatikan banyak beberapa candi di Indonesia itu banyak yang tidak direkonstruksi karena data historis dan data arsitekturnya tidak ada, sehingga mereka tidak berani,” jelas Antariksa

Pakar heritage ini juga mengatakan, jika rekonstruksi tetap dipaksakan untuk dilakukan maka itu akan menyalahi sejumlah hal seperti untuk pendidikan arkeologi, sejarah maupun pelestarian. “Sebuah heritage bisa memiliki fungsi baru, namun bukan bentuk baru. Ppenambahan bangunan tidak boleh mengganggu bentuk aslinya,” katanya.

Selain Noor Cholis Idham dan Antariksa hadir pula sebagai pembicara sejumlah pakar seperti Prof. Arif Budi Sholihah ST., M.Sc., Ph.D. (Universitas Islam Indonesia) dan Prof. Dr. Ing. Putu Ayu S.T., M.A. (Universitas Islam Indonesia). Ajang SAKAPARI 7 kali ini dikuti oleh 114 penyaji makalah dan puluhan peserta lainnya yang mengambil tema Heritage Management in the Time of Crisis. (*)

BERITA REKOMENDASI