3 SK Guru Besar UII Diserahkan

SLEMAN, KRJOGJA.com – Lembaga Layanan Pendidikan Tinggu (LLDikti) Wilayah V menargetkan hingga 2023 terdapat 100 orang guru besar. Target tersebut tidak muluk-muluk dan diharapkan bisa tercapai. Apalagi dengan turunnya 7 SK Guru Besar di Wilayah V untuk UII dan UMY masing-masing 3 dan 1 untuk UAJY, target itu diharapkan akan dapat terpenuhi.

Kepala LLDikti Wilayah V Prof Dr Didi Achjari SE Mcom Ak CA mengemukakan hal tersebut pada penyerahan SK Guru Besar untuk Dr Jaka Sriyana SE MSI, Dr Drs Nur Feriyanto MSi dan Fathul Wahid ST MSc PhD di Gedung Sardjito UII, Selasa (11/2/2020). Penyerahan SK dilakukan Didi Achjari kepada Wakil Rektor Dr Imam Djati Widodo dan kemudian diserahkan kepada masing-masing penerima SK.

“Kita bersyukur, SK ini turun akhir 2019. Karena dengan menteri baru dan pejabat baru ini hingga kini belum ada tim penilai yang memroses untuk guru besar tersebut. Sehingga untuk 2020 ini belum ada,” kata Didi.

Jika tim penilai sudah ada, Didi mengaku cukup optimis target tersebut bisa terpenuhi. Seperti di UII saja terdapat 191 dosen yang bergelar doktor dan 67 di antaranya memiliki jabatan Lektor Kepala. Belum lagi nanti di UMY, Atmajaya, Sanata Dharma dan juga UAD yang cukup banyak. “Hari ini sesungguhnya Wilayah V telah memutus mitos, karena memiliki 65 guru besar. Selama ini tidak pernah lebih dari 60,” ujarnya sembari tertawa.

Diakui, perjalanan para peraih guru besar ini cukup panjang dan berliku. Apalagi ada beberapa penafsiran yang berbeda dengan tim penilai dari Jakarta. “Masih ada pemahaman bila jurnal terindeks hanya Scopus, padahal kan tidak. Karena itu kami berusaha selalu mendampingi penilaian tersebut,” tambahnya.

Sedang Ketua Yayasan Badan Wakaf (YBW) UII Suwarsono Muhammad MA mengemukakan, dalam bahasa milenial orang sering bingung ‘bicara sejarah masa depan’. Pandangan Fukuyama yang menyatkan tidak ada pilihan di masa depan kecuali menjadi kapitalis seakan ‘dikoreksi’ dan dianggap terlalu dini. Pasalnya waktu itu, sosialisme berkembang pesat di Amerika Latin dan lainnya.

“Namun yang terjadi sekarang yang menang adalah kapitalisme dengan dua model: liberalism capitalism dan political capitalism dan dengan janji yang berbeda. Ada yang dengan ekonomi dan freedom, ada yang kesejahteraan dan keterbatasan,” katanya.

Yang menarik, kata Suwarsono, dengan pilihan ini tidak lagi ada yang berteriak bahkan kalangan akademisi pun mnenjadi sepi. Entah akademisi menjadi kapitalis baru atau menjadi agen kapitalis baru. “Itu sebabnya sekarang di negeri ini sepi ekonom bicara tentang ketimpangan. Bahkan ada yang berpandangan, dalam hidup memang harus ada ketimpangan. Sehingga ketimpangan bukan lagi masalah mainstream,” tambahnya.(Fsy)

BERITA REKOMENDASI