32 Guru Besar UNS Pentaskan ‘Wahyu Angedhaton’

SOLO, KRJOGJA.com – Sebanyak 32 Guru Besar ikut tampil memperkuat pagelaran Kethoprak Ismayasuddha dalam rangka dies natalis 42 Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo. Pentas kethoprak yang mengangkat lakon 'Wahyu Angedhaton' digelar di auditorium kampus Kentingan Solo, Rabu malam (21/3).
 
Sekretaris senat UNS Prof Sahid Teguh Widodo menjelaskan para Guru Besar secara umum memerankan tokoh utama. Dicontohkan rektor Prof Dr Ravik Karsidi MS menjadi Pakoe Boewana II, kemudian Prof Pawito PhD (Kyai Kalipah Buyut), Prof. Suntoro WA (Kyai Pekik Ibrahim), Prof. Widodo Muktiyo (Pangeran Wijil), Prof Riyadi Santosa (Tumenggung Tirtawiguna).
 
Ada juga Prof Supanto (Adipati Pringgalaya), Prof Sigit Santosa (Tumenggung Hanggawangsa), Prof Sutarno (Pangeran Cakraningrat IV), Prof Hartono (Kang Jaya),  Prof Jamal Wiwoho (Kang Wongso ) dan Prof Joko Nurkamto (Mas Wiguna). Dan Prof Sahid sendiri menjadi Ki Gedhe Sala.
 
Kethoprak yang disutradarai Bambang Sugiyarto dari Sanggar Kemasan diharapkan menjadi puncak hiburan dies natalis tahun ini. Sekaligus menyatukan visi dan menginspirasi bagi UNS menjadi locus pawiyatan luhur yang mampu mencerahkan stekeholder. "Kita sudah waktunya menjadi pencerah," kata Prof Sahid yang mendampingi Ketua Senat Prof Suntoro, Selasa (20/3).
 
Lakon "Wahyu Angedhaton" yang menceriterakan perpindahan kraton dari Kartasura ke Solo akan digambarkan perpindahan mind set dari tradiaoonal kekinian. UNS sebagai basis pengembangan kebudayaan.
 
Untuk memainkan lakon tersebut para Guru Besar UNS harus rajin menghafalkan naskah. "Karena sudah tua ya agak susah untuk menghafalkan. "Saya mencoba melakukan improvisasi," tambah Prof Suntoro.-(Qom)

BERITA REKOMENDASI