Badan Dunia Diminta Serius Sikapi Pengungsi Rohingya

SLEMAN, KRJOGJA.com – Jika tak disikapi serius, gelombang pengungsi suku Rohingya di berbagai tempat dapat menjadi masalah multidimensional. Karenanya, badan-badan internasional dan negara-negara di sekitar Myanmar perlu serius menyikapi pengungsi ini.

“Bangladesh menjadi negara terdekat terkena dampak paling besar dengan menampung ratusan ribu pengungsi. Sikap pemerintah Aung San Su Kyi di Myanmar yang tidak kooperatif dengan Badan Urusan Pengungsi PBB akan membuat status pengungsi Rohingya semakin tidak jelas di masa mendatang," tandas pakar  hukum internasional FH UII Prof Dr Jawahir Thontowi dalam orasi ‘Aksi Solidaritas untuk Rohingya’ yang diselenggarakan Universitas Islam Indonesia Jumat (13/10/2017) siang di Auditorium Kahar Muzakkir Jalan Kaliurang.  

Aksi bekerja sama dengan ACT menggalang dana mencapai Rp 100 juta. Dana  langsung diserahkan Rektor UII Nandang Sutrisno PhD kepada kepada Head of Marketing and Communication ACT DIY R Bagus Suryanto.

Jawahir menegaskan, secara juridis formal pelanggaran dan kejahatan HAM berat yang terjadi di Rakhine telah memenuhi kejahatan pidana internasional. “Pembantaian suku Rohingya tergolong kejahatan genosida. Karena itu komunitas akademik tidak akan mundur dan lantang menyuarakan intervensi kemanusiaan untuk menyelesaikan tragedi Rohingya. Karena hanya dengan dasar kemanusiaan kita bersatu, bukan yang lain," tambahnya.

Rektor UII Nandang Sutrisno PhD dalam pengantar aksi mengharap masyarakat di Indonesia  tidak melakukan aksi yang berlebihan/merugikan dalam menilai persoalan krisis kemanusiaan Rohingya. Jika berlebihan katanya, justru dapat berdampak negatif bagi stabilitas negara.

Untuk itu masyarakat akademik, sebut Nandang, hendaknya berperan aktif dengan memberikan solusi membangun. Kajian akademik dan diskusi disebutnya merupakan salah satu upaya yang bisa dilakukan. Sikap masyarakat akademik yang peduli dinilai dapat menggerakkan elemen-elemen masyarakat lainnya dalam memberi dukungan moril bagi etnis Rohingya. (Fsy)

 

 

UII

BERITA REKOMENDASI