Begini, Penyebab Banjir Garut Versi Peneliti UGM

SLEMAN (KRjogja.com) – Banjir bandang yang terjadi di Garut dan menewaskan korban lebih dari 20 orang 22 September 2016 lalu disebabkan oleh hujan lebat hingga 255 milimeter yang terjadi 3-4 jam. Padahal normalnya hujan dengan intensitas tersebut merupakan hujan sepanjang satu bulan pada musim penghujan biasanya. 

Hal tersebut disampaikan oleh peneliti UGM yang juga Wakil Dekan Geografi UGM Prof Aris Marfai kepada wartawan dalam temu pers, Senin (26/9/2016). Menurut Aris, hujan tersebut memicu naiknya debit air sungai pertemuan dari hulu di Gunung Papandayan dan Mandalagiri yang tanahnya di hulu banyak dijadikan lahan pertanian sayur mayur. (Baca Juga Korban Meninggal Banjir Garut Jadi 30 Orang)

 

"Dalam 3-4 jam hujan di Garut mencapai angka 255 milimeter dan itu sangat besar seperti akumulasi hujan dalam sebulan. Hal itu diperparah dengan vegetasi di hulu sungai yang ada di Papandayan dan Mandalagiri yang sudah berubah menjadi tanaman, air langsung turun dan akhirnya banjir bandang terjadi," terangnya. 

Tak hanya itu, pendangkalan dan penyempitan sungai akibat kurang tepatnya pengelolaan tata ruang di tujuh kecamatan terdampak banjir bandang dinilai juga menjadi penyebab besarnya air bah yang datang pada malam kejadian tersebut. Wilayah Garut sendiri diumpamakan sebagai mangkok yang dikelilingi tujuh gunung. (Baca Juga Ini Pemicu Banjir Bandang Garut)

"Seharusnya 50 meter dari bibir sungai itu tidak boleh ada bangunan, padahal di kawasan tersebut bangunan rumah sangat padat, rumah di kawasan sungai sebenarnya, itu juga yang perlu diperhatikan. Apalagi Garut seperti mangkok yang kalau gunung-gunungnya hujan lebat dan vegetasinya hilang akan langsung terkena imbas," imbuhnya. 

Rektor UGM Dwikorita Karnawati mengharapkan perhatian dari pemerintah untuk meninjau ulang tata ruang dan tata guna lahan di kawasan Garut. "Termasuk juga mata pencaharian penduduk yang sekarang didominasi petani sayur mayur yang akhirnya memakan lahan konservasi di gunung, kalau pohon habis maka tak ada lagi penahan air, bencana seperti kemarin bisa terjadi lagi, itu yang kita tidak inginkan," terangnya.

UGM menurut Dwikorita juga memberangkatkan tim ke Garut guna membantu penanganan korban pasca bencana. Namun, kini UGM yang memiliki peneliti lintas disiplin ilmu fokus agar bencana serupa tak terjadi karena potensi bencana hidromorfologi sangat besar di Indonesia. (Fxh)

BERITA REKOMENDASI