Beras Hitam Hasil Riset UNS Bakal Disuka Petani, Tunggu Ya..

Editor: KRjogja/Gus

SOLO, KRJOGJA.com – Beras hitam hasil riset Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo sebentar lagi siap dipublis. Varitas padi baru beras hitam ini menunggu capaian generasi ke 7 sehingga stabil terkait umur padi, ketinggian tanaman maupun produktivitas per hektarnya.

"Sekarang kami terus menjaga riset padi varitas baru ini agar sampai pada tahapan publis," jelas Prof Sutarno MSc PhD, koordinator riset beras hitam usai membuka the 2nd International Conference on Food Science and Engineering (ICFSE) 2018 di Solo Paragon Hotel, Selasa (25/9).

Produk beras hitam disiapkan untuk memasok kebutuhan pangan yang berkualitas dan sehat. Mengacu data estimasi yang dirilis PBB tentang pertumbuhan populasi, pada 2030 diprediksi penduduk dunia mencapai 8.5 miliar jiwa dan akan terus bertambah menjadi 9.7 miliar pada 2050. Pertumbuhan ini akan memunculkan mengenai daya dukung alam dan sejumlah masalah

Untuk mengantisipasi adanya kasus kekurangan gizi dan kelaparan, negara-negara di dunia harus bahu membahu. Riset beras hitam yang dikerjakan UNS salah satu bagian upaya memperkaya ketersediaan dan keragaman pangan. Karena beras hitam memiliki kadar gula yang relatif rendah, cocok dikomsumsi penderita diabetes millitus.

Prof Sutarno yang didampingi Prof Ari Handono dan Prof Bambang Pujiasmanto mengatakan sampai generasi 5 varitas padi hitam semakin baik. Tingginya berkurang jadi semakin kuat, tidak mudah roboh diterjang angin. Umurnya juga lebih pendek sampai 3 minggu. "Petani akan semakin suka," kata wakil rektor 1 UNS itu

Ketua Panitia ICFSE 2018, Dr Danar Praseptiangga menambahkan forum internaaional di atas bertujuan memfasilitasi akademisi, peneliti, pembuat kebijakan, lembaga pemerintah dan swasta dalam berbagi pengetahuan mengenai permasalahan terkait ilmu pangan dan rekayasa proses.

Tampil pembicara dari luar negeri diantaranya Prof Jinap Selamat dari Universiti Putra Malaysia, Senay Simsek dari North Dakota State University USA, Koen Dewettinck dari Ghent University Belgium, Jirawat Yongsawatdigul dari Suranaree University of Technology Thailand, Sastia Prama Putri dari Osaka University Japan, dan Jung Samooel dari Chungnam National University Korea. (Qom)

UNS

BERITA REKOMENDASI