Beri Kuliah Umum di UPNVYK, Menhan: Cegah Radikalisme Masuk Kampus

SLEMAN, KRJOGJA.com – Indonesia sudah sejak lama dikenal dunia sebagai bangsa yang solid, toleran, ramah dan murah senyum. Dan hal yang tidak kalah penting, Indonesia juga dikenal sebagai bangsa yang sangat mencintai perdamaian dan keadilan serta menghormati perbedaan.

Baca Juga: Rektor UPNVY Tekankan Pancasila dan Bela Negara Pengikat Bangsa

Hal itu diungkapkan Menteri Pertahanan (Menhan) Jenderal TNI (Purn) Ryamizard Ryacudu saat memberikan kuliah umum di depan ribuan mahasiswa baru Universitas Pembangunan Nasional (UPN) 'Veteran' Yogyakarta, Selasa (3/8/2019). Menurutnya, Indonesia adalah rumah bersama. Sebagai anak bangsa, tentu tidak akan rela jika ada sekelompok orang yang ingin mengubah Pancasila dan menjadikan Indonesia sebagai bangsa tanpa keberagaman atau negeri untuk satu golongan saja.

"Indonesia adalah rumah kita. Oleh karena itu persatuan Indonesia itu menjadi sangat penting. Mengapa semut bisa mengalahkan gajah? Karena semut itu memiliki etos budaya persatuan yang tinggi. Mereka tidak pernah bicara tentang dirinya. Mereka selalu bersatu dan gotong royong dalam menyelesaikan setiap permasalahan. Saling menghormati satu sama lain dan ketika bersatu menjadi kuat. Itulah bela negara," urainya.

Diungkapkannya, sesuai dengan mandat UU, Presiden telah memberikan mandat pengelolaan kebijakan dan pengembangan arsitektur pertahanan negara kepada Menhan. Dalam merumuskan strategi pertahanan negara, Kemenhan selalu mengacu pada perkembangan kondisi aktual dan realistik potensi ancaman negara masa kini dan mendatang.

"Kami juga telah merumuskan dan menetapkan kebijakan penyelenggaraan dan pertahanan negara yang pelaksanaanntya akan melibatkan semua komponen bangsa dengan rumusan siapa berbuat apa. Termasuk di dalamnya merumuskan kebijakan politik penggunaan kekuatan TNI sebagai komponen utama yang didukung oleh sumber daya nasional lainnya sebagai komponen cadangan," ungkapnya.

Lebih lanjut Menhan mengatakan, dalam era perkembangan modernisasi dan globalisasi saat ini, harus mewaspadai ancaman yang tidak nyata atau non fisik. Ancaman itu dicontohkan Menhan terhadap mindset bangsa Indonesia yang berupaya untuk mengubah ideologi negara Pancasila atau yang populer dengan istilah peran modern proxy war. "Muara akhir dari perang ini bernuansa materialisme. Dimana ingin menguasai sumber daya alam dan sumber perekonomian nasional," katanya.

Sedangkan ancaman nyata dan sangat berbahaya terhadap eksistensi dan keutuhan bangsa negara adalah terorisme dan radikalimes. Ancaman ini tidak hanya menimbulkan kerugian material dan nyawa serta menciptakan rasa takut di masyarakat. Tetapi juga telah mengoyak persatuan dan persaudaraan bangsa.(Awh)

 

BERITA REKOMENDASI