Dosen Asing Bakal Dongkrak Reputasi Perguruan Tinggi

BANDUNG, KRJOGJA.com – Kehadiran  dosen asing di perguruan tinggi di Indonesia mampu mendongkrak reputasi perguruan tinggi di Indonesia.

"Kami targetkan itu, ada peningkatan mutu pendidikan Indonesia, perguruan tinggi bisa berkolaborasi dengan dosen luar negeri agar bisa masuk dalam jajaran kampus kelas dunia," ungkap Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristek Dikti) Mohammad Nasir di Bandung, Rabu (02/05/2018).

Menurut Menteri  Nasir kehadiran dosen luar negeri bukan hanya sebagai staf pengajar saja, namun lebih ke arah bentuk kolaborasi, bertukar ilmu pengetahuan antar dosen maupun dengan mahasiswa. Para dosen lokal maupun asing bisa berkolaborasi dalam hal melakukan penelitian maupun menciptakan inovasi baru bersama-sama, yang ujungnya akan membawa reputasi perguruan tinggi di Indonesia ke arah yang lebih baik.

"Kalau ini bisa dilakukan, reputasi perguruan tinggi di Indonesia akan meningkat dengan secara otomatis dengan kolaborasi tadi," ujarnya.

Meski begitu, kehadiran dosen asing sering terganjal oleh beberapa faktor salah satunya waktu menetap di Indonesia. Dari catatan yang diperoleh Kemenristekdikti, para dosen asing sering keluar masuk Indonesia di waktu yang tidak lama.

"Problemnya kalau orang akan tinggal di Indonesia dalam hal ini berkolaborasi (minimal) satu tahun (menetap di Indonesia). Mereka ga bisa satu bulan keluar lagi, nanti masuk lagi. Itu costnya mahal, bagi PT juga itu akan berat," katanya.

Akan tetapi, bagi perguruan tinggi yang ingin menggunakan jasa dosen asing, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi salah satunya yakni adanya pertukaran antar dosen dari kampus yang menjalin kerjasama.

"Ada syarat yang harus dipenuhi, yaitu namanya staf mobility, jadi pertukaran dosen. Dosen Indonesia keluar negeri, dosen luar negeri ke Indonesia, dalam hal kolaborasi. Kalau tidak dilakukan itu ga bisa," katanya.

Saat ini tercatat, dosen luar yang mengajar di kampus dalam negeri mencapai 200 orang, sementara dosen Indonesia yang pergi ke luar negeri menyentuh angka 1.000 orang.

"Kami targetkan PT-PT yang besar bisa masuk 10 atau lima orang dosen berkolaborasi. Kalau lebih besar lebih bagus untuk PT masing-masing. Tidak berarti mendesak dosen dari luar negeri, tapi berkolaborasi," katanya. (Ati)

Berkaca pada salah satu perguruan tinggi di Arab Saudi yakni King Fahd University of Petroleum and Minerals, sekitar 40 persen dosennya berasal dari luar negeri. Hasilnya pun terbukti mampu mendongkrak posisi kampus tersebut masuk ke posisi 189 dunia.

-IdREN dan Program Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) Unpad. Kemenristekdikti melalui Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan selama ini telah menginisiasi Sistem Pembelajaran Dalam Jaringan (SPADA) yang berbasis TIK. Untuk menfasilitasi pelaksanaan SPADA, maka dilakukan inovasi melalui IdREN (Indonesia Research and Education Network) yaitu jaringan privat nasional dalam pendidikan dan riset yang bisa menghubungkan perguruan tinggi baik negeri atau swasta dan mahasiswa untuk belajar lebih inovatif, mandiri, dan fleksibel.

Sekretaris Jenderal Kemenristekdikti Ainun Na'im menyampaikan bahwa pada sistem pembelajaran online ini tidak berarti hanya mentransfer power point atau materi dosen ke web tetapi online process ini juga bisa memfasilitasi interaksi mahasiswa melalui sistem online tersebut. 

Ainun juga mengatakan tidak hanya PTN, namun PTS juga mendapatkan manfaat dari kebijakan Kemenristekdikti terkait SPADA dan IdRen. Ia menyebutkan bahwa kini IdREN sudah bisa diakses oleh 80 perguruan tinggi baik PTN maupun PTS. 

Sementara itu Sekretaris Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemenristekdikti Rina Indriastuti menambahkan Hardiknas kali ini juga sebagai momentum untuk melakukan inovasi pada pendidikan tinggi Indonesia. 

"Dengan implementasi SPADA dan IdREN membuka kolaborasi antara PTN/PTS dalam peningkatan mutu pendidikan tinggi. Kolaborasi tersebut ditujukan menguatkan praktek pendidikan digital yang inovatif dan fleksibel tentu dengan standar mutu yang baik," tutur Rina.

Pada kesempatan yang sama Rektor Unpad Tri Hanggono Achmad mengatakan dengan adanya fasilitasi PJJ ini pemanfaatannya bukan hanya dari aspek program studi itu sendiri tapi merupakan wujud dari _resource sharing_. 

"Apa yang dimiliki oleh suatu perguruan tinggi bisa manfaatkan oleh perguruan tinggi lain. Bukan hanya materinya termasuk kapasitas para dosennya. Sehingga rekognisi terhadap mereka dapat dilihat juga oleh banyak pihak," tutur Tri.

Peringatan Hardiknas Kemenristekdikti tahun ini sendiri akan menyuguhkan berbagai macam kegiatan menarik lainnya, seperti diskusi dengan peserta PMDSU ITB tentang Karier Dosen Bagi Generasi Milenial di Gedung Indonesia Menggugat (GIM), Seminar Halal Science bersama King Faisal International Prize 2018 kategori Berjasa untuk Islam, Prof Irwandi Jaswir dari Malaysia, Pameran Foto dan Diskusi tentang Potensi Pendidikan Seni dalam Pendidikan Tinggi Indonesia: Modal dan Visi ke Depan, serta jalan sehat dan layanan publik di kawasan Car Free Day Dago, Bandung. (Ati)

BERITA REKOMENDASI