Dosen dan Mahasiswa UGM Dampingi Warga Mengembangkan Potensi Tanaman Anggrek

KULONPROGO,KRJOGJA.com – Tim dosen dan mahasiswa Fakultas Biologi dan Fakultas Pertanian UGM melakukan sosialisasi serta pelatihan tentang budidaya anggrek kepada masyarakat di Dusun Banyunganti, Desa Jatimulyo, Kecamatan Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo pada Jumat (5/5/2017) dan Rabu (24/5/2017) lalu. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilakukan untuk mendorong warga untuk mengembangkan potensi budi daya tanaman anggrek yang secara alami tumbuh liar di pekarangan penduduk maupun di hutan.

“Masyarakat tidak menyadari bahwa anggrek-anggrek tersebut merupakan plasma nutfah yang sangat berharga bagi daerahnya dan beberapa diantaranya memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Karena itu  tanaman anggrek tersebut harus dijaga keberadaannya jangan sampai punah,” ujar Dr. Endang Semiarti, M.S., M.Sc. selaku ketua tim, Senin (29/5/2017).

Endang menjelaskan, selama ini masyarakat menganggap beberapa tanaman anggrek di sekitar mereka hanyalah tanaman liar yang tidak memiliki nilai ekonomi. Padahal, tanaman anggrek yang bernilai ekonomi tinggi dapat dibudidayakan untuk menambah pendapatan keluarga. Bahkan, imbuhnya, kawasan Kulon Progo memilki anggrek khas yang belum diketahui oleh masyarakat, yaitu jenis anggrek Dendrobium capra dan Coelogyne speciosa.

“Ini menjadi suatu alasan yang sangat penting untuk memasyarakatkan anggrek-anggrek Kulon Progo di habitat aslinya. Kondisi masyarakat yang umumnya petani sangat mendukung keberhasilan realisasi pembudidayaan anggrek dikarenakan masyarakat sudah terbiasa dengan budidaya tanaman,” imbuhnya.

Kepada para warga Desa Jatimulyo, Endang dbeserta timnya memberikan penjelasan mengenai budidaya anggrek secara konvensional. Selanjutnya dilakukan praktek budidaya secara konvensional oleh masyarakat dusun Banyunganti yang didampingi oleh mahasiswa Fakultas Biologi yang tergabung dalam Kelompok Biology Orchid Study Club (BiOSC). Kegiatan yang dilakukan tidak hanya sebatas pada pelatihan budidaya secara konvensional namun juga akan dilakukan pelatihan budidaya secara in vitro skala rumah tangga, pelatihan kewirusahaan dan pelatihan IT untuk pembuatan website ekowisata anggrek Dusun Banyunganti.

Ia berharap, kerja sama yang telah terjalin dengan baik antar semua pihak dalam kegiatan ini dapat terus berlanjut dan berkembang, dan kawasan banyunganti dapat dikembangkan sebagai tempat budidaya anggrek serta menjadi destinasi wisata, terutama karena adanya pembangunan bandara di daerah tersebut yang akan mempermudah mobilitas dengan akses jalan yang semakin baik.

“Impian untuk menjadikan kawasan Banyunganti menjadi sentra tanaman Anggrek di Kabupaten Kulon Progo dan Daerah Istimewa Yogyakarta yang sebelumnya belum pernah ada dapat terwujud, dan UGM sebagai center of excellence Anggrek akan terus mendukung keberlanjutan dari program ini,” pungkas Endang.

Kegiatan sosialisasi budidaya tanaman anggrek kepada masyarakat ini merupakan salah satu kegiatan yang didanai oleh UGM dengan hibah program Implementasi ESD dalam masyarakat bertema Konservasi Biodiversitas dengan kategori ESD Masyarakat tahun 2017 yang dikelola oleh Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat UGM. Selain mendapat dukungan dari berbagai instansi pemerintah, sosialiasi yang telah berlangsung ini pun mendapat respon yang positif dari masyarakat.

“Kegiatan yang dilakukan diharapkan mampu meningkatkan kreativitas dan keindahan di Dusun Banyunganti,” ucap Sutarman selaku Kepala Dusun Banyunganti. (Humas UGM/*)

BERITA REKOMENDASI