Dua Dosen UGM Hadiri Penyerahan Nobel

Editor: KRjogja/Gus

YOGYA (KRjogja.com) – Dua dosen Departemen Ilmu Hubungan Internasional (HI) Fisipol UGM, Muhadi Sugiono MA dan Yunizar Adiputera MA diundang menghadiri upacara penyerahan Hadiah Nobel 2017 di Oslo Norwegia, 10 Desember mendatang. Keduanya mewakili Institute of International Studies (IIS) UGM selaku rekanan resmi International Campaign to Abolish Nuclear Weapons (ICAN) yang aktif mengampanyekan pemusnahan senjata nuklir sejak tahun 2013. 

Dalam upacara penyerahan itu, penghargaan Nobel Perdamaian untuk ICAN akan diterima Direktur ICAN, Beartice Fihn didampingi Setsuko Thurow, salah satu korban bom atom di Hiroshima. Hadiah akan disampaikan Ketua Panitia Nobel Norwegia 2017, Berit Reiss-Andersen dan disaksikan Raja Norwegia Harald V.

Muhadi mengatakan, ICAN dianugerahi penghargaan Nobel Perdamaian pada 6 Oktober 2017 atas upayanya menarik perhatian khalayak global atas konsekuensi kemanusiaan yang diakibatkan senjata nuklir. Penghargaan ini sebagai ganjaran luar biasa ICAN dalam mengisi kekosongan perjanjian internasional untuk melarang senjata pemusnah massal. Sebelum pelarangan senjata nuklir disahkan di PBB, senjata ini menjadi satu-satunya pemusnah massal yang belum dilarang dalam hukum internasional, meski sifatnya sangat destruktif.                        

"Penganugerahan Hadiah Nobel ini sebuah pengakuan atas prestasi luar biasa yang selama 72 tahun tidak pernah bisa dicapai masyarakat internasional. Selama tiga tahun terakhir ini ICAN berhasil meyakinkan negara-negara di PBB bahwa kita dihadapkan pada masalah besar selama (senjata) nuklir itu ada," terang Muhadi saat menggelar jumpa pers, Rabu (6/12). 

IIS UGM sebagai satu-satunya mitra resmi ICAN di Indonesia, mengemban misi memastikan pemerintah RI mendukung seluruh upaya perlucutan senjata nuklir. Muhadi dan Yunizar yang merupakan peneliti IIS UGM giat hadir sebagai bagian dari ICAN dalam berbagai pertemuan tingkat tinggi. Keduanya secara bergantian hadir dalam tiga Konferensi Dampak Kemanusiaan Senjata Nuklir di Oslo (2013), Nayarit (2014), Wina (2014) serta pertemuan Kelompok Kerja Perlucutan Senjata Nuklir PBB di Jenewa (2016). 
Muhadi dan Yunizar berkontribusi memastikan dukungan pemerintah Indonesia, memonitor sikap yang diambil pemerintah di negara-negara Asia Tenggara serta melakukan lobi-lobi informal kepada perwakilan diplomat yang hadir. 

Yunizar menambahkan, selain upaya di tingkat tinggi, mobilisasi dan kampanye di kalangan akar rumput tak luput ditempuh. Edukasi melalui media sosial, penandatanganan petisi, human poster di titik keramaian dan kegiatan bersepeda bersama telah dilakukan. Setelah disahkannya traktat dan penghargaan Nobel ini, IIS UGM terus mendorong pemerintah Indonesia meratifikasi Pelarangan Senjata Nuklir demi tercapainya perdamaian dunia. "Momentum Nobel ini harus dimanfaatkan mendorong negara-negara, tidak terkecuali Indonesia untuk menandatangani dan meratifikasi traktat pelarangan senjata nuklir," kata Yunizar. (Dev)

UGM

BERITA REKOMENDASI