Ego Sektoral Hambat Penanganan Penyakit Tropis

KRJOGJA.com –  Berbagai macam penyakit tropis seperti malaria, demam berdarah, serta TBC masih menjadi masalah kesehatan nasional di Indonesia. Meski penyakit-penyakit ini memang lazim terjadi di daerah tropis dan subtropis, namun prevalensi penyakit ini di Indonesia semakin meningkat.  Kondisi ini menuntut upaya penanganan cepat dari berbagai kalangan, baik praktisi kesehatan, kalangan akademisi, pihak swasta, maupun masyarakat.

“Bangsa kita ini bangsa pejuang yang bisa melawan penjajah, tetapi kenapa melawan penyakit saja tidak bisa. Ini salah satunya karena masih ada egosentris sektoral dari tiap bidang yang ada,” ujar Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan RI, dr. Mohamad Subuh, MPPM, Rabu (10/05/2017) di University Club UGM.

Hal ini ia sampaikan saat memberikan paparan dalam Seminar Nasional bertajuk 'Perkembangan Terkini Tropical Medicine: Aspek Sains, Klinis, dan Manajemen' yang diselenggarakan oleh Program Pascasarjana Fakultas Farmasi UGM. Dalam kesempatan ini ia memaparkan situasi perkembangan penyakit tropis di Indonesia sepanjang tahun 2016 yang masih ditandai dengan jumlah kasus dan penderita yang tinggi.

Diantaranya, kata Subuh penyakit malaria yang menjadi endemik di 52% kabupaten/kota di Indonesia, serta DBD yang memiliki jumlah penderita sebanyak 202.314 orang. Ia juga menyebutkan masih tingginya prevalensi penyakit tropis yang masih tergolong sebagai penyakit yang terabaikan seperti filariasis, schistosomiasi, serta kusta.

Untuk mengatasi masalah ini, Subuh menjelaskan, Kementerian Kesehatan telah menjalankan berbagai inovasi dalam upaya pencegahan dan pengendalian penyakit. Meski demikian, upaya pengendalian penyakit masih menghadapi berbagai tantangan. (*)

UGM

BERITA REKOMENDASI