Fenomena Pasang Surut ‘Danau’, Begini Penjelasan Ahli

SLEMAN, KRJOGJA.com – Pekan lalu, warga Gunung Kidul sempat geger dengan kemunculan danau dadakan di Dusun Wediwutah, Desa Ngeposari, Kecamatan Semanu, Gunungkidul. 

Mata air seluas sekitar tiga hektar tersebut kini sudah mulai surut. Fenomena ini menyebabkan banyak yang bertanya-tanya bagaimana hal itu bisa terjadi. 

Guru Besar Fakultas Teknologi Mineral, Prof Dr Sari Bahagiarti K MSc yang juga ahli Hidrogeologi UPN “Veteran” Yogyakarta (UPNVY) menjelaskan, bahwa fenomena yang terjadi sebenarnya bukanlah hal aneh apalagi di daerah karst.

Baca Juga : 

Suara Menggelegar, Tanah Dusun Jambu Ambles
Sebelum Tabrak Bukit, Bus Alami Rangkaian 'Firasat Buruk'

"Di daerah Gunung Kidul yang merupakan topografi karst terdapat rongga-rongga, gua-gua, dan sungai-sungai di bawah tanah. Berdasarkan rekaman data saat ini terdapat lebih dari 250 gua baik kering maupun berair di Gunung Kidul,” jelas Rektor UPNVY, Rabu (6/12/2017).

Sari mengatakan saat curah hujan sangat tinggi dan ekstrim, rongga-rongga di bawah tanah akan penuh terisi air. Ketika air di permukaan surut, air yang berada di bawah permukaan atau rongga itu masih ada.

Jika sifat sungai di bawah tanah itu artesis atau semi artesis, kata Sari maka ketika banjir surut, air yang berada di dalam rongga akan keluar atau dimuntahkan kembali ke permukaan karena adanya tekanan hidrostatistik.

“Meskipun pada tahun lalu di Gunung Kidul juga terjadi banjir, namun saat ini karena faktor hujan yang ekstream sehingga  air permukaan masuk dan memenuhi rongga-rongga menyebabkan batuan karst di daerah tersebut menjadi sangat jenuh air,” ujar Sari. 

Sari mengemukakan faktor banjir yang ekstrim, mengakibatkan suplay air permukaan ke bawah permukaan terlalu besar, kemungkinan melebihi kapasitas atau daya tampung rongga-rongga, sehingga akan dengan cepat dimuntahkan kembali keluar, pada saat banjir telah surut. Hal ini menyebabkan terjadinya sebuah fenomena seolah-olah terbentuk mata air baru atau danau baru. 

Ditegaskan oleh Sari, bahwa di bawah tanah terjadinya fenomena tersebut dapat dipastikan adanya rongga.

"Jika faktor-faktor alam dan geologis mendukung, maka dimungkinkan fenomena tersebut akan muncul kembali. Namun Sari menghimbau agar masyarakat tidak terlalu khawatir, fenomena ini justru menjadi pelajaran masyarakat tentang daerah karst." (Mg-19)

BERITA REKOMENDASI