Garuda UNY: Didirikan Karena Kampus Lain Tak Ada yang Mau Ikut Lomba

HARI ini, Sabtu (20/5/2016) Tim Mobil Garuda UNY tengah berdebar-debar menunggu pengumuman pemenang di ajang International Student Car Competition (ISCC) 2017 di Korea Selatan yang berlangsung sejak 15 Mei lalu.

Tahun lalu diajang yang sama, tim yang berdiri tahun 2013 lalu ini mendapat tiga penghargaan sekaligus: 1st Rank Acceleration Electric, 1st Rank Manuever Overall, dan 1st Rank Endurance.

Ternyata sebelum meraih berbagai prestasi internasional, tim ini memiliki banyak memori tak terlupakan. Termasuk alasan terbentuknya diawali kekesalan karena tidak ada satupun tim mobil dari universitas lain yang menjadi perwakilan Indonesia di kompetisi internasional.

"Tim Mobil Garuda UNY sejujurnya terbentuk karena rasa kesal saya, tidak ada satu kampus pun yang menjadi perwakilan Indonesia di kejuaraan internasional," kata Dr Zainal Arifin, pembimbing Tim Mobil Garuda UNY kepada KRjogja.com.

Dr Zainal Arifin masih ingat betul ketika dirinya membentuk tim kecil yang kemudian hari dikenal civitas akademika UNY maupun masyarakat umum sebagai Garuda UNY Racing Team. Pada waktu itu, disposisi surat menyambangi meja kantornya yang terletak di Bengkel Otomotif UNY.

Dilengkapi dengan dering telpon dari panitia yang meminta sang dosen pendidikan teknik otomotif, untuk mengirimkan delegasi dalam Student Green Car Competition (SCGC) di Korea Selatan.

Zainal kemudian tergerak untuk menawarkan pada koleganya di perguruan-perguruan tinggi negeri yang lain. Kolega dari UGM, ITB, dan ITS yang menurutnya telah lama akrab dengan lomba sedemikian rupa telah menghiasi daftar panggilan di telepon genggamnya. Namun bagai pungguk merindukan bulan, tiada satupun yang menanggapi ajakannya.

"Jadilah saya yang digantung tidak ada respon ini bertekad, ayo kami bentuk tim kecil bersama teman-teman. Kami UNY juga bisa," ungkapnya yang kini juga menjabat sebagai Kepala Program Studi Pendidikan Teknik Otomotif.

Sebuah tekad yang kemudian mengawali terbentuknya tim Garuda UNY, dan di kemudian hari berhasil menyabet 34 piala kompetisi. Termasuk mengalahkan tim besar yang dulu mengabaikan ajakannya.

Dulunya Sempalan UKM Rekayasa Teknologi

Teman-teman yang dimaksud Zainal pada waktu pendirian tim tidak lain adalah anggota divisi mobil UKM Rekayasa Teknologi. Pada tahun 2009, Kemahasiswaan UNY yang dinahkodai Wakil Rektor III Prof Herminarto Sofyan memutuskan membentuk UKM tersebut. Tujuannya sederhana: mengakomodasi bakat anak-anak fakultas teknik.

Lima divisi kemudian muncul dari UKM tersebut. Divisi robot, roket, teknologi tepat guna, rancang bangun, dan divisi mobil. Divisi inilah yang sejak awal pembentukannya dibimbing oleh Zainal. Mengikuti Kompetisi Mobil Listrik Indonesia yang diselenggarakan Ditjen Dikti di Bandung.

"Dari situ bakat mulai muncul. Tahun 2012 menandai tiga kali kami juara umum KMLI beruntun," ungkapnya bangga kepada anak didiknya karena berhasil menjuarai kompetisi tersebut sejak 2009. Walaupun dengan sedikitnya sokongan dana dari universitas maupun sponsor ditengah kondisi tim yang masih belia.

Barulah pada 2013 tersebut menjadi kesempatan pertama tim Garuda UNY melancong ke luar negeri. Dalam kompetisi SCGC di Korea. Pada waktu itu, 12 mahasiswa UNY terbang melintasi samudera dengan perasaan campur aduk. Bangga, cemas, sekaligus meraba-raba.

"Karena kita masih belum tahu sama sekali medannya nanti seperti apa, saingannya siapa. Tapi dengan tekad dan usaha layaknya yang kita lakukan di Bandung, kita berhasil gondol penghargaan Best Creative Technology," kenang Zainal.

Rombongan tim Garuda UNY sebelum berangkat ke Korea Selatan

Walaupun pada akhirnya juara, kecemasan mereka benar-benar terbukti ketika mengkuti kejuaraan di Jepang. Karena belum tahu medan, tim Garuda UNY tidak bisa menghadapi cuaca di negeri matahari terbit sana dengan maksimal. 

Waktu itu memang musim panas. Tapi di Jepang maupun negara beriklim sub-tropis lainnya, siang hari yang begitu terik bisa terbalik 180 derajat di malam harinya. Zainal ingat betul termometer dinding hotelnya yang menunjukkan suhu belasan derajat celcius pada suatu malam disana.

"Jadilah teman-teman karena tidak terbiasa dengan cuaca tropis, akhirnya banyak yang sakit. Mengeluh cuaca, termasuk mengeluh makanannya," ungkapnya yang kemudian mengisahkan perbedaan nasi Jepang dan Indonesia. Walaupun sama-sama nasi, tapi cara makan, dengan lauk dan bumbu yang berbeda ternyata menghasilkan corak rasa yang berbeda drastis pula.

Berdasarkan pengalaman tersebut, Zainal bertekad untuk membentuk tim yang menurutnya bercorak lebih "bhinneka." Merangkul mahasiswa dari berbagai program studi yang tersebar di penjuru UNY. Selain dari Teknik Otomotif maupun Teknik Mesin, ia kemudian mengajak para mahasiswa dari jurusan IPS, Akuntansi, maupun pendidikan bahasa Inggris untuk menyokong tim.

"Termasuk dari Pendidikan Olahraga kita rekrut juga. Para anggota tim perlu dilatih kebugaran supaya tidak dingin sedikit lalu jatuh sakit. Juga pelemasan dan pijat-pijat berbasis sport science," tegasnya.

(Ilham Dary Athallah/Maylatul Aspiya/Erna Wati)

BERITA REKOMENDASI