Guru Besar Undip Dikukuhkan Sebagai Anggota AIPI

SEMARANG (KRjogja.com) – Guru Besar Ilmu Genetika Medik Fakultas Kedokteran Undip Prof dr Sultana MH Faradz PhD menyatakan semakin banyak penderita disorder of sexual development (DSD) atau kelainan perkembangan kelamin atau orang awan menyebut kerancuan kelamin (bukan kelamin ganda) di Indonesia. Sejalan dengan makin tingginya masyarakat memerikasakan DSD ke lab ataupun rumah sakit.

Penyakit ini ibarat gunung es yang baru terungkap di permukaan saja namun diperkirakan masih banyak yang belum mau periksa karena berbagai alasan, termasuk alasan utama menganggap hal yang tabu. Sehingga mereka kebanyakan datang periksa saat sudah dewasa, andaikan datang masih usia anak-anak maka akan semakin mudah dalam penangannya dan menyelamatkan beban mental penderita di masyarakat.  

Hal tersebut disampaikan Prof Sultana pada kuliah inaugurasi dirinya sebagai anggota akademi ilmu pengetahuan Indonesia (AIPI) di Undip, Senin (15/8/2016) dihadiri Rektor Prof Dr Yos Johan Utama SH, MH, para wakil rektor Undip, Ketua AIPI Indonesia Prof dr Sangkot Marzuki, Ketua Komisi Ilmu Kodekteran AIPI Prof Sjamsu Hidayat dan sivitas akademika Undip.

“Kesadaran penderita kerancuan kelamin datang ke layanan kesehatan seperti di Rumah Sakit Nasional Diponegoro (RSDN) atau Rumah Sakit Dokter Kariadi bisa membantu pasien dalam menentukan gender, pengasuhan gender, diagnosis dan membantu pasien dalam meningkatkan kualitas hidupnya. Termasuk mengurangi kemungkinan penyakit ini muncul kembali pada generasi selanjutnya. Namun saat ini fasilitas lab atau SDM bidang ini belum merata ada di setiap propinsi atau kota besar sehingga pemerintah perlu memikirkan dan merencanakan sarana prasarana lab DSD minimal di tiap propinsi dulu,” ujar Prof Sultana yang tahun 1979 merancang dan mendirikan lab DSD RSDK-Undip yang dikenal sebagai Cebior (Centre for Biomedical Research) dan tercatat sebagai centre yang pertama di Asean. (Sgi)     

 

BERITA REKOMENDASI