Inilah Penyebab Media Digital Sering Sebar Hoax

SLEMAN, KRJOGJA.com – Tidak ada perbedaan yang berarti pada media tradisional dengan media digital, terkecuali cara penyebaran informasinya. Hal tersebut seperti yang diungkapkan Tenaga Ahli Kedeputian IV Bidang Komunikasi Politik dan Diseminasi Informasi, Gabriel Sujayanto.

“Media digital dengan media tradisional itu sama, enggak ada bedanya. Cuman satu dicetak di kertas dan satunya lagi secara digital,” ujarrnya dihadapan peserta seminar nasional Call For Research Competition (CRFC) 2017 ‘Demokarasi Dalam Media Digital’, di Auditorium Kampus IV Gedung Theresa Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Sabtu (16/09/2017).

Sujayanto menjelaskan, di era digital ini semua orang dapat menjadi pewarta dengan mengabarkan suatu hal dan beropini di media sosial. Meskipun begitu, tulisan yang disampaikan tersebut harus berdasarkan fakta yang terjadi. Apabila tidak, maka artikel tersebut justru dinilai akan menimbulkan polemik dan keguncangan dalam masyarakat.

“Berita palsu dan berita bohong akan menyebar bagai virus, menjadi epidemi dan pandemi,” terangnya.

Sejatinya pers sendiri tercantum dalam pilar ke-4 demokrasi. Terdapat beberapa poin yang harus dilakukan seperti tidak memihak, cover both side, melakukan verifikasi, membuat berita atas dasar fakta dan peristiwa, dan independen.

Sujayanto menilai, media digital sering kali menyebarkan berita bohong ataupun berita palsu karena tidak melaksanakan lima aturan penting pers itu.

Menurutnya, memihak atau tidaknya pada artikel yang berkembang di media sosial saat ini masih patut dipertanyakan. Selain itu, hanya sedikit pula masyarakat yang melakukan verifikasi terkait tulisannya. Bahkan, adapula yang menulis justru tidak berdasarkan fakta yang yang terjadi. Jikalau berita tanpa peristiwa itu sudah terlanjur beredar dalam masyarakat, maka hal tersebut akan membuat ruang demokrasi menjadi keruh dan masyarakat menjadi sulit melihat kebenaran.

“Kalau prasyarat itu tidak dilakukan ya terjadi seperti sekarang, masyarakat menjadi susah menilai apakah ini berita bohong atau tidak. Harusnya karena yang berbeda hanya mediumnya, maka media digital juga harus menjalankan kelimanya itu,” tegasnya. (Mg-10)

 

BERITA REKOMENDASI