Jokowi Akan Buka Jambore Relawan Muhammadiyah

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Presiden Jokowi dijadwalkan akan membuka jambore Relawan ke-2 Muhammadiyah pada 1 Desember mendatang di Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UM) Malang. Kegaitan akan diikuti sekitar 2.000 relawan  Muhammadiyah seluruh Indonesia dari  unsur perguruan tinggi, rumahsakit, madrasah dan lainnya yang mewakili Muhammadiyah-Aisyiyah.

Ketua Muhammadiyah Disaster Management Centre (MDMC) atau Lembaga Penanggulangan Bencana (LPB) PP Muhammadiyah Budi Setiawan menyebutkan hal tersebut dalam jumpa pers, Senin (27/11/2017). Didampingi Ketua Panitia Budi Santoso dan Wakil Ketua Rahmawati Husein, Budi Setiawan menyebutkan dalam  jambore ke-2 juga diisi dengan seminar nasional kebencanaan, pameran lomba foto challenge, gladi penanggulangan bencana dan kelas pengurangan risiko bencana. “Juga dilakukan uji kompetensi relawan meliputi SAR, medis, cerdas cermat psikososial,” tandasnya.

Kegiatan jambore yang diselenggarakan hingga 3 Desember ini diakui Budi hendak  dijadikan momentum berkumpulnya relawan Muhammadiyah untuk meningkatkan kapastias dalam penanggulangan bencana.  “Muhammadiyah lewat LPB melakukan inisiasi mengubah paradigma penanggulangan bencana bukan saat terjadi bencana saja, namun juga penangulangan bencana sekaligus pengurangan risiko bencana,” jelas Budi Setiawan.

Menurutnya, semangat relawan Muhammadiyah dalam penanggulangan bencana harus diiringi dengan kapasitas dalam penangulangan bencana. “Sehingga upaya pengurangan risiko bencana dapat tercapai maksimal,” ujarnya.

Wakil Ketua MDMC PP Muhammadiyah Rahmawati Husein menegaskan bahwa relawan Muhammadiyah tidak hanya datang ketika ada bencana, memberikan sumbangan dan terus pergi. Namun kami mengadakan pendampingan pascabencana.  Seperti di Bali sekarang kata Rahmawati, relawan kami secara bergantian sudah berada di posko sejak  erupsi pertamakali Gunung Agung dan sampai sekarang belum ditarik. “Jadi Muhammadiyah tidak datang  sekadar menyerahkan bantuan,” tandasnya.

Relawan Muhammadiyah menurut Dosen Fisipol UMY ini memiliki standar kompetensi yang paling tidak diuji di tingkat MDMC. “Kami tidak ingin relawan yang aktif itu asal saja. Sehingga sertifikasi relawan yang kini juga digalakkan pemerintah saya kira menjadi penting juga. Bila belum mengikuti uji kompetensi tingkat nasional, MDMC atau LPB juga memberikan sertifikasi setelah mengikuti uji kompetensi internal,” ujarnya. (Fsy)

BERITA REKOMENDASI