Juara BLF 2016, UGM Kukuhkan Posisi sebagai Unggulan Kompetisi Debat

Editor: KRjogja/Gus

Delegasi UGM berhasil membawa pulang trofi juara pertama dalam Kompetisi Debat Pidana Nasional Piala Munir Said Thalib Brawijaya Law Fair 2016. Bagi UGM, kemenangan ini semakin mengukuhkan posisi UGM sebagai salah satu kompetitor yang disegani dalam ajang kompetisi debat nasional.

“Tim debat kembali meneruskan tradisi. Sebelum lomba ini Fakultas Hukum UGM memang dari waktu ke waktu telah menjadi unggulan dalam setiap lomba debat di tingkat nasional,” ujar Dekan Fakultas Hukum, Prof. Dr. Sigit Riyanto, S.H., LL.M, dalam konferensi pers yang berlangsung Senin (21/11) di Ruang Debat Fakultas Hukum.

Ketiga mahasiswa Fakultas Hukum yang mewakili UGM dalam kompetisi ini adalah Dede Tri Nugraha Amir, Calvin Lucky, serta Muhammad Gravi Danutirto, yang berada di bawah bimbingan Muhammad Fatahillah Akbar, S.H., LL.M selaku dosen pembimbing. Untuk memperoleh gelar juara, tim ini harus mengalahkan 23 delegasi dari berbagai universitas di seluruh Indonesia serta melalui empat tahapan kompetisi yang berlangsung selama 2 hari berturut-turut pada tanggal 17-18 November.

Kompetisi diawali dengan babak penyisihan, di mana para peserta dibagi ke dalam 8 chambers yang masing-masing berisi 3 tim. Pada babak ini UGM memperoleh tantangan yang cukup berat dengan berada di grup yang sama dengan Universitas Indonesia serta Universitas Negeri Lampung. Namun kemampuan para mahasiswa UGM ditunjukkan dengan kemenangan telak yang diperoleh saat berhadapan dengan kedua tim ini. Setelah keluar sebagai juara chambers, UGM melangkah ke babak perempat final dan terus berlanjut hingga babak Semifinal yang mempertemukan mereka dengan delegasi  Universitas Diponegoro (UNDIP).

“Dalam babak semifinal ini kami menghadapi lawan yang cukup sulit. Kami memperoleh hasil seri saat melawan UNDIP, tapi akhirnya kami lolos ke final karena menang skor,” ujar Dede.

Dede mengakui, kompetisi ini cukup menguras pikiran serta tenaga mereka. Meski demikian, semua kerja keras mereka terbayarkan setelah mereka memenangkan babak final melawan UNS dengan mosi rekonsiliasi sebagai mekanisme penyelesaian pelanggaran HAM tahun 1965 pada posisi kontra.

“Kompetisi ini sangat menguras tenaga karena dari babak penyisihan hingga semifinal dilaksanakan dalam satu hari, baru kemudian babak final di hari selanjutnya. Tapi kami bangga bisa mempersembahkan kemenangan ini,” imbuhnya.

Selain meraih gelar juara dalam kompetisi debat, UGM juga lolos sebagai finalis dalam kompetisi Legal Opinion yang masih menjadi bagian dari penyelenggaraan Brawijaya Law Fair 2016. Dalam kompetisi yang mengambil topik mengenai kasus pidana anak ini, UGM diwakili oleh Sigit Wibowo. Ia dinobatkan sebagai juara setelah mengalahkan delegasi dari Universitas Indonesia, Universitas Hassanudin, Universitas Diponegoro, serta beberapa universitas lainnya. (Humas UGM/Gloria)

 

UGM

BERITA REKOMENDASI