Kampus di Yogya Harus Jadi Ruang Toleransi

YOGYA (KRjogja.com) – Kasus intoleransi dirasa sudah masuk menyerang ke institusi pendidikan seperti kampus yang sebenarnya merupakan ruang akademis untuk berdialog dan diskusi tentang banyak hal. Salah satu bukti ketika ada permintaan salah satu ormas menurunkan baliho mahasiswi berjilbab di Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) beberapa waktu lalu.

Saat terjadi tindakan intoleran, ternyata banyak pihak yang kemudian gagap menanggapinya karena kampus sendiri terkesan tak bergerak aktif menunjukkan proses toleransi. Topik inilah yang muncul dalam diskusi bertajuk Toleransi Dalam Keberagaman Keistimewaan di kampus UKDW Rabu (21/12/2016) petang.

Rektor Universitas Sanata Dharma (USD) Johanes Eka Priyatma yang menjadi salah satu narasumber mengatakan bawasanya kampus harus bisa menjadi tonggak toleransi utama di masyarakat. Menurut dia, mahasiswa yang ada di kampus merupakan calon penerus kebhinekaan Indonesia yang harus memahami betul makna toleransi dalam kehidupan sehari-hari.

"Toleransi bukan hanya sekedar tidak mengganggu, tapi bagaimana bisa saling bertumbuh dalam perbedaan yang ada. Kami di USD memiliki realitas hidup bersama dan saling menghargai baik itu mahasiswa Muslim maupun Katolik, bahkan karyawan kami banyak yang muslim meskipun kami universitas Katolik, inilah kebhinekaan dan Indonesia kecil," ungkapnya.

Senada dengan Johanes, Alim Ruswantoro Dekan Khusuludin UIN Sunan Kalijaga juga mengungkap bawasanya di kampusnya mahasiswa berusaha membahas banyak hal untuk membuka pemikiran terkait keberagaman yang sebenarnya ada dan terjadi di Indonesia. Di UIN, Alim mencontohkan ada pengajar ahli alkitab (kitab suci Kristen Katolik) yang juga ahli Bahasa Arab memberikan materi perkuliahan untuk mahasiswa Muslim.

"Ada dialog, ada diskusi di dalam kelas yang terjadi dan pengalaman bertatap muka langsung inilah yang sangat berharga bagaimana mahasiswa kami membuka pikiran bawasanya toleransi dibangun dengan pengalaman, tentu pendekatannya tidak terlalu teologis. Namun di sini mahasiswa bisa mendapatkan pengalaman langsung mengetahui perbedaan," ungkapnya.

Sementara Hendry Feriadi Rektor UKDW yang sempat didatangi salah satu ormas mengungkap budaya toleransi harus benar-benar diberlakukan di dalam kampus karena mahasiswa inilah yang merupakan penerus bangsa Indonesia. "Kampus adalah ruang belajar bagi calon pemimpin bangsa, dan kalau paham intoleransi berkembang maka nanti akan mempengaruhi ketika mahasiswa ini berkarier, dan kita tentu tidak inginkan hal tersebut," terangnya.

Akademisi Muhammadiyah yang juga sosiolog, Zuly Qodir menilai perlunya peran serta instansi berwenang seperti kepolisian dan TNI untuk menindak tegas adanya indikasi intoleransi yang masuk ke dalam ranah akademis. Ia mencatat paling tidak ada 18 kasus intoleransi yang terjadi di DIY sejak tahun 2013 dan ini menjadi preseden buruk bagi predikat City of Tolerance.

"Saya kira aparat keamanan yang harus berperan aktif lagi terutama dalam hal intoleransi di DIY. Predikat City of Tolerance harus benar-benar ditegakkan kembali," ungkapnya. (Fxh)

BERITA REKOMENDASI