Kembangkan Inbisma, UII Ingin Cetak Pencipta Kerja

Editor: KRjogja/Gus

YOGYA (KRJogja.com) – Untuk menekan tingginya angka pengangguran,  UII kini mengambangkan Inbisma, inkubator bisnis mahasiswa. Dengan harapan  agar di masa depan lulusan UII tidak sekadar menjadi pencari kerja tapi juga pencipta lapangan kerja. Hal ini juga mengingat, persaingan dunia kerja yang demikian keras dan kompetitif bukan hanya di tingkat local namun juga global.

 

Wakil Rektor 3 UII Ir Agus Taufik MSc mengemukakan hal tersebut ketika membuka Job Fair di Auditorium Kahar Mudzakkir, Sabtu (9/12). Job Fair dalam rangkaian UII Integrated Career Days berlangsung hingga Minggu (10/12) dan diikuti 23 perusahaan nasional maupun lokal di antaranya perbankan, otomotif, asuransi.

Memang sekarang, menurutnya masa tunggu alumnus UII pun juga tidak terlalu lama dibanding lulusan perguruan tinggi lain, rata-rata hanya 3 bulan. Artinya sebut Agus, kualitas lulusannya juga sudah diakui dunia industry.  “Hanya saja, persoalan ketenagakerjaan  ini akan terus ada. Ini tidak  lepas karena adakalanya tidak sebanding antara jumlah pencari kerja dengan peluang kerja yang tersedia,” ujar Agus Taufik. Sehingga kegiatan untuk pencari kerja secara umum seperti ini disebutnya merupakan jembatan sekaligus solusi pencari kerja dan dunia industri bertemu dan saling mencocokkan kebutuhan.

“Persoalan tenaga kerja akan menjadi isu hangat terus menerus di negeri dengan ratusan juta penduduk seperti Indonesia. Apalagi persaingan makin terbuka dan mengglobal. Paling tidak, di lingkungan ASEAN, persaingan bebas soal tenaga kerja sudah terjadi,” tandas Agus.

Apalagi di Indonesia menurut Agus di tengah serbuan masuknya tenaga kerja asing angka pengangguran juga masih tinggi. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan jumlah angkatan kerja per Agustus 2017 mencapai 128,06 juta orang. Angka ini menurut Agus naik 2,62 dibanding Agustus 2016 silam.
Di DIY sebutnya, tingkat pengangguran terbuka per  Agustus 2017 sebesar 3,02%. Hal ini juga menunjukkan kenaikan dibanding dengan Februari 2017 yang mencapai 2,84%. “Ketidakseimbangan struktur dalam lapangan kerja diduga mendorong penyerapan tenaga kerja yang tidak maksimal. Sehingga meningkatkan jumlah pengangguran,” ujar Agus Taufik.  Realita ini merupakan fenomena serius yang harus segera diselesaikan. Jika terbiarkan berlarut dikhawatirkan akan mempengaruhi situasi nasional. (Fsy)

 

UII

BERITA REKOMENDASI