Kurikulum di Indonesia Belum Mampu Jawab Masa Depan

SOLO, KRJOGJA.com –  Prof Intan Ahmad PhD menyatakan kurikulum yang ada di perguruan tinggi di Indonesia secara umum belum menjawab masa depan. Ini akibat lambannya program studi dalam melakukan perobahan karena harus berpegang pada kurun 5 tahunan.

"Untuk merobah kurikulum tidak usah harus menunggu 5 tahunan. Setiap saat bisa dilakukan perunahan guna menyesuaikan dengan kebutuhan," jelas Prof Intan, Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi pada peringatan Milad 60 tahun Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Sabtu (27/10).

Sementara ini kurikulum yang ada belum merespon dengan kebutuhan sekarang dan masa depan. Untuk menjawab kebutuhan, perguruan tinggi dituntut selalu bisa melakukan perubahan kurikulum. Artinya, setiap saat kurikulum bisa dirubah agar output pendidikan selalu relevan dengan kebutuhan sekarang.

"Sekarang ini lulusan yang IPKnya tinggi banyak. Yang lulus tepat waktu juga banyak. Tapi ketika terjun bekerja masih banyak kekurangan," tuturnya. Sebagai jawabnya perguruan tinggi harus bisa memberikan sesuatu kepada lulusannya yang tidak dimiliki orang lain.

Salah satunya, lanjut Prof Intan,, para sarjana harus mampu berkomunikasi dengan baik. Ini harus dirancang sejak awal. Mahasiawa harus aktif berorganisasi. Mereka juga diikutkan pada program pengabdian agar bertemu langsung dengan masyarakat. "Selain itu juga harus mampu beradaptasi."(Qom)

 

BERITA REKOMENDASI