Lindungi Penyu Hijau dari Kepunahan

SEMARANG (KRjogja.com) – Teknologi penangkapan ikan yang modern diduga mengakibatkan terjadinya krisis perikanan secara langsung dan tidak langsung. Ditambah lagi dengan tertangkapnya secara tidak sengaja spesies lain yang merupakan bagian dari rantai makanan dalam ekosistem tersebut, sehingga bisa berdampak pada rusaknya keanekaragaman hayati laut.
 

"Pengelolaan perikanan di Indonesia juga menjadi perhatian masyarakat dunia, khususnya hasil tangkapan sampingan perikanan pada spesies-spesies yang dilindungi seperti penyu dan mamalia laut lainnya. Sangat penting artinya  mempertahankan populasi dari spesies-spesies yang dilindungi tersebut tanpa mengurangi nilai ekonomi dari industri perikanan” Ujar Dr Summer L Martin dari National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) pada ceramah di Undip.
 
Dr Summer menjelaskan penyu diakui sebagai hewan reptil yang rentan terhadap eksploitasi berlebihan sehingga keberadaannya di laut semakin hari semakin terancam. Penyu masuk ke dalam ‘red list’ di IUCN (international Union for the Conservation of Nature and Natural Resources) dan Appendix I CITES yang berarti keberadaan hewan tersebut di alam telah terancam punah.

"Dampak langsung yang paling signifikan terhadap penyu di wilayah Asia-Pasifik telah diidentifikasi sebagai pengambilan telur penyu serta penangkapan penyu dewasa secara berlebihan dan kematian secara tidak sengaja akibat aktifitas perikanan dengan menggunakan alat tangkap salah satunya dengan menggunakan alat tangkap jaring insang (gillnet)."
 
Penangkapan menggunakan jaring insang merupakan salah satu dari bentuk metode penangkapan perikanan yang dilakukan di hampir seluruh dunia yang sering bermasalah karena dampak penangkapan yang non-selektif. Studi terbaru menunjukan  banyak dari perikanan gillnet secara signifikan bersentuhan langsung dengan penyu.  (Sgi)

 

BERITA REKOMENDASI