Mahasiswa Akutansi UAA Anti Fraud

YOGYA, KRJOGJA.com – Pendidikan sejak dini baik dari bangku sekolah dasar hingga perguruan tinggi merupakan proses transfer ilmu yang sangat dinamis bagi anak-anak bangsa secara formal. Sedangkan pendidikan keluarga mereka dapatkan sejak lahir dalam lingkungan tempat tinggal masing-masing. Keduanya menjadi dua faktor penting yang seharusnya didapatkan setiap anak Indonesia.

Melalui kurikulum pembelajaran yang terus bergerak menuju perbaikan dan adaptasi terhadap kemajuan zaman, khususnya di perguruan tinggi, diharapkan mampu membekali dan mengantarkan mahasiswa untuk lebih aktif dan kritis. Selain itu ditambahkan pula kegiatan di luar kelas seperti keikutsertaan dalam unit-unit kegiatan mahasiswa hingga kegiatan di masyarakat guna menanamkan kesadaran bahwa keberadaan lingkungan menjadi salah satu faktor pendukung mereka dalam berkembang.

“Program Studi Akuntansi Universitas Alma Ata berupaya mengedukasi mahasiswa salah satunya melalui mata kuliah Audit Forensik yang memperkenalkan dan mempelajari seperti apa dunia audit forensik khususnya tentang fraud atau kecurangan yang dahulu belum mereka ketahui agar kini dapat mereka pahami. Beberapa hal sederhana tetapi berarti terkait dengan fraud dalam dunia kampus yang patut untuk mahasiswa Prodi Akuntansi tanamkan agar mereka belajar dan tidak terjerumus didalamnya yaitu menerapkan kedisiplinan dengan tidak melakukan korupsi waktu atau terlambat masuk ke kelas dan mengumpulkan tugas sesuai dengan waktu yang telah ditentukan oleh dosen,” jelas Nila Hidayah, SE, M.Ak., Ak, Dosen Prodi Akuntansi Universitas Alma Ata.

Kemudian jujur dalam mengerjakan ujian, baik tidak mencontek, mengcopas jawaban di internet maupun mengerjakan ujian sendiri tanpa bantuan orang lain. Selain itu dalam pengerjaan tugas dari dosen, baik tugas secara individu maupun kelompok tetap memberikan penghargaan bagi tulisan yang mereka kutip dengan menerapkan etika penulisan. Melakukan riset secara mandiri atau bersama dosen dengan topik seputar audit forensik dengan mengeksplorasi lebih mendalam bagaimana fraud dapat diminimalisir bahkan diperangi juga merupakan bentuk nyata mahasiswa menggalakkan anti fraud di dunia pendidikan.

“Tak lupa gerakan anti fraud juga mereka gaungkan di dalam unit-unit kegiatan mahasiswa seperti dalam himpunan mahasiswa saat mengadakan serah terima jabatan dan pemilihan pengurus baru harus dilandasi dengan asas tanggung jawab, LUBER dan anti fraud, serta yang tidak kalah penting memiliki kepekaan terhadap lingkungan sekitar kampus adalah suatu aksi nyata yang perlu direalisasikan melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat dalam bentuk kegiatan yang berkaitan dengan anti fraud pula,” imbuhnya.

Sosok mahasiswa yang masih muda dan berenergi sangat tepat untuk dibekali dan didorong menjadi mahasiswa anti fraud yang mampu menjadi perantara bagi mahasiswa lainnya hingga masyarakat untuk mengetahui bahaya fraud dan berupaya untuk menghindarinya. Terlebih lagi banyaknya kasus-kasus bermunculan di negara Indonesia yang sangat erat dengan dunia audit forensik, contohnya tindak pidana korupsi yang dilakukan justru oleh orang-orang yang berpendidikan tinggi.

“Harapannya, ketika di bangku perkuliahan mahasiswa Prodi Akuntansi Universitas Alma Ata telah diberikan bekal tersebut, maka ketika terjun ke dalam dunia kerja, insyaa Allah tidak ada kata kecurangan lagi di dalam pikiran, perbuatan dan langkah mereka, namun hanya pengabdian yang sungguh-sungguh yang mereka berikan melalui pendidikan yang tidak hanya tinggi tetapi moral dan etika yang mereka kedepankan dan kelak akan menjadi generasi penerus bangsa yang dapat bersaing secara sehat serta terus memperjuangkan kebenaran,” pungkasnya.(*)

BERITA REKOMENDASI