Mahasiswa KKNT-2 UAA Edukasi Pemilahan Sampah Bernilai Rupiah Bersama Aplikasi Rapel

HINGGA saat ini sampah masih menjadi permasalahan yang mendarah daging di kehidupan sehari-hari masyarakat, bahkan menjadi salah satu penyebab utama kerusakan lingkungan secara global. Masyarakat masih beranggapan bahwa sampah itu kotor, menjijikan dan tidak bermanfaat. Hal tersebut memunculkan kebiasaan, cara pandang dan budaya bahwa sampah sudah semestinya dibakar dan dibuang jauh dari lingkungan tempat tinggal, karena selain dianggap tidak lagi bernilai manfaat, sampah akan mengundang sumber penyakit bagi kesehatan. Kesadaran masyarakat akan pengelolaan sampah yang baik dan benar menjadi sulit dikarenakan kebiasaan masyarakat masih berpedoman pada ajaran lawas ‘Buanglah Sampah Pada Tempatnya’, padahal membuang sampah pada tempatnya saja tidak cukup. Melainkan sampah harus dipilah sesuai jenisnya agar dapat dikelola dengan baik dan benar.

Dalam upaya membangun pemahaman, kesadaran dan kepedulian terhadap pengelolaan sampah, Mahasiswa Universitas Alma Ata (UAA) melalui program Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) kelompok 1 Guwosari menyelenggarakan kegiatan ‘Sosialisasi Pengelolaan Sampah Bernilai Rupiah’. Sasaran dari kegiatan ini adalah ibu-ibu kader PKK di Dusun Gandekan, Kelurahan Guwosari, Kapanewon Pajangan, Kabupaten Bantul. Dalam kegiatan tersebut mahasiswa mengundang Marta Yenni AKS, perwakilan dari PT Wahana Anugerah Energi yang lebih dikenal melalui produknya yaitu RAPEL (Rakyat Peduli Lingkungan), sebuah aplikasi masa kini yang bergerak dibidang pengelolaan sampah anorganik.

“Langkah awal dan mudah yang dapat dilakukan ibu-ibu rumah tangga adalah membagi sampah hasil kegiatan sehari-hari kedalam 2 kategori; yaitu sampah organik dan anorganik. Sampah organik adalah sampah yang berasal dari sisa makhluk hidup baik manusia, hewan maupun tumbuhan yang mudah terurai secara alami meskipun tanpa proses campur tangan manusia untuk dapat terurai. Sedangkan sampah anorganik adalah sampah yang sudah tidak dipakai kembali dan sulit terurai,” jelas Marta Yenni, Minggu (10/10/2021).

BERITA REKOMENDASI