Manajemen dan Solusi Koperasi Syariah Masa Pandemi  

Editor: Ary B Prass

 

YOGYA, KRJOGJA.com – Usaha Mikro dan Kecil Menengah (UMKM) merupakan sektor usaha yang paling terdampak pandemi Covid -19. Hal ini disebabkan karena pada umumnya penghasilannya bersifat harian dan tidak memiliki cukup simpanan untuk menopang usahanya jika harus tutup atau tidak bisa berjualan. “Penutupan tempat wisata, pasar tradisional dan pembatasan kegiatan dalam skala mikro atau makro sangat berdampak bagi kelangsungan UMKM,” kata Dr Riduwan MAg, dosen Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Jumat (03/09/2021). Riduwan menyampaikan hal tersebut dalam Pelatihan Manajemen Koperasi Syariah bersama pembicara Drs Hendro Setiyono SE MSc, Farid Makruf ST MEng.

Menurut Riduwan, Yogyakarta yang mengandalkan sektor pariwisata dan pendidikan sebagai penopang utama ekonominya, mengalami dampak yang sangat serius karena kedua sektor unggulan tersebut sampai saat ini belum bisa dibuka. Tidak adanya wisatawan domistik maupun internasional, berdampak pada industri pariwisata seperti hotel, restoran, tempat wisata sampai pada sektor penunjangnya seperti usaha mikro yang ikut mensuplai atau berjualan di area wisata. Di samping itu,  sektor pendidikan masih menggunakan model daring, menyebabkan banyak industri kecil sebagai penunjang pendidikan turut terdampak seperti warung makan, tempat kos, serta berbagai usaha kecil lainya yang selama ini pasar utamanya mengandalkan mahasiswa atau pelajar.

Dampak pandemi tersebut juga dirasakan oleh para anggota Purna Migran Indonesia (PMI). Pandemi Covid-19, menyebabkan mereka mengalami kesulitan berusaha sehingga penghasilannya sangat terganggu dan membutuhkan pendampingan,  pembinaan usaha, supaya semangat kemandirian dan kemampuan berusaha terus meningkat.

Diungkapkan Riduwan, UAD melalui Program Pengabdian Masyarakat, menyelenggarakan pelatihan Manajemen Koperasi Syariah untuk pengurus dan anggota PMI DIY,  25 Agustus 2021 lalu. Materi pelatihan meliputi prinsip Syariah dalam koperasi, manajemen koperasi serta produk dan layanan koperasi berbasis teknologi informasi, dengan pembicara Dr Riduwan MAg, Drs  Hendro Setiyono SE MSc dan Farid Makruf ST MEng.

Riduwan berpendapat, secara prinsip koperasi Syariah berbeda dengan konvensional, terutama menyangkut dasar transaksi yang terbebas dari riba, akad sesuai Syariah serta adanya pengawas Syariah.

 

BERITA REKOMENDASI