Masyarakat Harus Waspadai Gerakan Intoleran

YOGYA, KRJOGJA.com  – Mobilisasi sentimen agama yang digencarkan kelompok-kelompok tertentu dengan menggunakan label agama cenderung menjadi gerakan intoleran dan radikal. Keadaan ini masih diperparah dengan ujaran-ujaran oknum tokoh dan pemuka masyarakat yang bernada memecah persatuan dan kesatuan bangsa. Masyarakat harus mewaspadi gerakan intoleran tersebut.

"Masih adanya gerakan organisasi yang jelas-jelas menolak dan ingin mengganti dasar negara Pancasila dengan dasar negara yang lain. Itu ditambah adanya  gerakan oleh beberapa orang yang diduga akan melakukan makar," kata Ketua sarasehan Forum Alumni 85 Jurusan Sejarah & Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan Prodi Pendidikan Sejarah Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, YB Murdiana, di Yogyakarta, Kamis (06/07/2017).

Menurut Murdiana, dinamika politik nasional mengalami pasang surut. Namun, dalam dua tahun terakhir eskalasi politik akan memanas. Perkiraan keadaan politik nasional hari-hari mendatang akan terus memanas seiring dengan pelaksanaan Pilpres 2019 dan bukan tidak mungkin akan mengganggu stabilitas nasional. 

Dilecehkannya terbitan uang RI baru dengan gambar pahlawan beberapa waktu yang lalu menunjukkan ekspresi rendahnya rasa hormat dan penghargaan kepada para pahlawan. Padahal, para pahlawan tersebut telah berjuang tanpa pamrih untuk melepaskan diri dari penjajah dan memerdekakan Indonesia. NKRI dalam kondisi terancam keselamatannya. 

"Sebagai anak bangsa yang mencintai NKRI kami merasa terusik dan prihatin. Jika keadaan ini terus dibiarkan maka polarisasi politik masyarakat akan semakin nyata dan membahayakan keutuhan NKRI. Guru sejarah memiliki posisi strategis untuk lebih berperan dalam menangkal intoleransi dan radikalisme dan menjaga NKRI dari perpecahan,” kata Murdiana. (*)

BERITA REKOMENDASI