Menikmati Pulau Bungin Di Gelar Karya Fotografi UAJY

YOGYA, KRJOGJA.com – Atmajaya Photography Club (APC) bersama Rotaract Club of Jogja Merapi gelar karya fotografi dan 1000 buku untuk Bungin di Loop Station, 3-4 Juni 2017 pukul 10.00 – 21.00 WIB. Mengusung konsep ‘Bajo Bungin’ pameris menyuguhkan keunikan serta fenomena di pulau tersebut.

Ketika memasuki ruangan pameran, pengunjung akan langsung disambut dengan lagu-lagu daerah Sumbawa. Tidak hanya itu, suara desiran ombak serta keriuhan penduduk pulau Bungin juga diperdengarkan agar pengunjung dapat merasakan atmosfir kehidupan di pulau terpadat di dunia itu.

"Lagu-lagu daerah Sumbawa, suara ombak sampai suara masyarakat di sana bakal diputar agar pengunjung dapat merasakan betul atmosfir pulau Bungin, ” ujar koordinator gelar karya Randi Eka Sanjaya kepada KRJOGJA.com, Minggu (04/06/2017).

Randi mengungkapkan, dalam gelar karya fotografi kali ini pameris mengusung tiga sub tema yang berbeda namun masih berkesinambungan. Ketiga sub tema tersebut ialah suku Bajo, reklamasi dan pulau terpadat.

Sub tema suku Bajo menjelaskan mengenai budaya-budaya yang ada di suku tersebut, termasuk upacara adat dan kegiatan tradisional lainnya. Salah satu yang berhasil dipersembahkan melalui karya fotografi ialah nyorong, yaitu sejenis kegiatan lamaran yang dibalut dengan upacara adat serta iringan musik rebana dan seruling yang melingkung.

"Nyorong itu semacam lamaran yang ceweknya pakai baju adat, kegiatannya ada musik rebana dan seruling, ada acara seserahan dan setiap orang yang datang memberikan uang kepada calon mempelai,” imbuhnya.

Seb tema reklamasi menerangkan mengenai seberapa luas pulau Bungin saat ini. Dahulunya, pulau ini hanya memiliki wilayah 3 hektar. Namun akibat penduduk yang terus bertambah, pulau ini pun harus di reklamasi dan kini luasnya mencapai 12 hektar. "Di reklamasi kita bakal jelasin seberapa besar pulau Bungin, dari yang dulunya 3 hektar sampai sekarang jadi 12 hektar,” tegasnya.

Sub tema pulau terpadat menggambarkan mengenai kepadatan yang berada di pulau Bungin, seperti rumah-rumah yang saling berhimpitan, keriuhan penduduk, serta lahan penghijauan semakin sedikit hingga dampak sampah yang menggunung di samping rumah warga. Bahkan, akibat gunungan sampah itu kini hewan-hewan di pulau Bungin yang dulunya makan rumput sudah menjadi makan sampah. (Mg-10)

BERITA REKOMENDASI