Museum Lokabudaya Universitas Cenderawasih Papua Ikut MGtC 2019

SOLO, KRJOGJA.com – Museum Lokabudaya Universitas Cenderawasih Papua ikut memeriahkan Museum Goes to Campus (MGtC) 2019 yang digelar di kampus Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, 29-31 Oktober. Tampilnya koleksi dari Papua dipastikan akan menjadi daya tarik dalam MGtC ke 4.

Ketua MGtC, Insiwi Febriary Setyasih menjelaskan rencana kedatangan koleksi Museum Lokabudaya Universitas Cenderawasih Papua sebagai perwujudan tema Keberagaman sebagai Dinamisator Peradaban yang diusung pada MGtC kali ini. "Mereka datang berpartisipasi dengan memamerkan kebudayaan di Kota Bengawan," katanya, Jumat (25/10/2019).

Selain Museum Lokabudaya Papua yang ikut serta dalam MGtC yakni Museum Pendidikan Indonesia, Universitas Negeri Yogyakarta, Museum UNS, Museum/Lab Sejarah FIB UNS, Museum/Lab Sejarah FKIP UNS, Museum/Lab Sejarah FKIP, Universitas Veteran Sukoharjo, Museum Keris Nusantara Solo.

Kemudian Museum Kambang Putih Tuban, Museum Bung Karno Blitar, Museum Penerangan Jakarta, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Jakarta, Arsip dan Perpustakaan Daerah Jawa Tengah, serta Confusius Institute. Untuk melengkapi MGtC dilaksanakan workshop untuk para guru sejarah. Fokusnya membahas metode pembelajaran sejarah berbasis nilai-nilai kebhinekaan.

Di tengah semangat perguruan tinggi mendirikan museum, ternyata mengalami problem besar soal pendanaan. Sebab, Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) tidak menganggarkan dana khusus untuk museum universitas. Padahal museum ini melaksanakan fungsi sebagai tempat pengkajian koleksi sejarah dan rekreasi.

"Ada persyaratan yang harus dipenuhi untuk menjadi sebuah museum. Memiliki tempat, pengurus, koleksi, dan story line koleksi tersebut. Museum universitas memenuhi syarat itu semua," jelas Dr Susanto, pengamatan museum UNS yang juga Kaprodi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (FIB).

Di Indonesia, lanjut Susanto, tercatat ada 438 museum yang dikelola kementerian, pemerintah daerah (pemda), dan swasta. Tidak semua museum memiliki penganggaran baik untuk melaksanakan kegiatan.(Qom)

BERITA REKOMENDASI