Pangan Tentukan Mati Hidupnya Bangsa

YOGYA (KRjogja.com) – Pangan menentukan mati hidupnya bangsa, oleh karena itu seharusnya pangan jangan sampai impor, agar ketahanan nasional bangsa tidak mudah digoyang oleh negara lain. Kalau soal ketahanan pangan, Indonesia bisa mewujudkan, yang sulit adalah kedaulatan pangan.

Penjelasan ini disampaikan oleh Kabid Ketersediaan Pangan Badan Ketahanan Pangan DIY Ir Syam Arjayanti MPA pada diskusi publik 'Efektifitas Impor dalam Mewujudkan Ketanahan Pangan Nasional' di kampus Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) Yogyakarta, Minggu (25/9/2016). Penyelenggara diskusi Majelis Mahasiswa Fakultas (MMF) Pertanian UST bekerjasama dengan Ikatan Senat Mahasiswa Pertanian Indonesia (ISMPI) Wilayah III Yogyakarta dan Jawa Tengah.

"Ketahanan pangan berupa beberapa komoditi sudah tersedia, tetapi tidak melihat asalnya dari dalam negeri apa impor," kata Syam Arjayanti.  Kebutuhan pangan tercukupi, tetapi bahan pangan yang tersedia bukan hanya dari dalam negeri melainkan juga dari luar negeri.

Tentang kemandirian pangan, apabila sudah survive bisa tidak impor. Semua tercukupi dari dalam negeri. Tetapi bagi Indonesia,  kedaulatan pangan apa mungkin terujud? Di era global seperti sekarang rakyat bisa memanfaatkan sesuai keinginan sendiri.

Selanjutnya Syam Arjayanti menjelaskan, pembangunan pertanian sendiri menghadapi beberapa tantangan. Di antaranya perubahan iklim yang tidak menentu. Pertanian di DIY yang luasnya sekitar 100 hektar puso gara-gara perubahan iklim. Demikian pula bawang merah dan cabai menderita kerugian besar karena hujan di luar musim.

Tantangan lainnya adalah perekonomian global dan melemahnya nilai tukar rupiah. Daging ayam, kita tidak swasembada murni. Memang ayamnya bisa menyediakan sendiri, tetapi pakannya masih impor. Demikian pula dengan gejolak pangan global.  Kedelai masih impor, bahkan para pengusaha tahu dan tempe, lebih suka menggunakan kedelai impor daripada kedelai lokal. Tantangan lain yang sulit dihindari adalah bencana alam, bisa merusak lahan pertanian. Disamping itu, jumlah penduduk yang terus bertambah membuat kebutuhan pangan juga bertambah.

Persoalan lain aspek distribusi. Masing-masing daerah tidak sama. Sultinya distribusi di daerah produksi, akan berpengaruh pada harga. Kemudian urbanisasi, anak muda pergi ke kota tidak lagi tertarik untuk menjadi petani. Banyak bahan makanan ayng masih impor seperti beras, jagung, gandum, gula, kedelai dan juga garam. Untuk kedelai menurut Syam Arjayanti, sebaiknya subsidi pada harganya bukan pada pupuk. Karena pupuk masih impor. Keengganan petani menanam kedelai karena tanaman tersebut rewel, harus ditunggui, dan harganya tidak menjanjikan. (War)

BERITA REKOMENDASI