Pemerintah Indonesia Investasi Jurnal Dunia

SEMARANG (KRjogja.com)- Salah satu kendala kurang banyaknya karya dosen-dosen Indonesia masuk jurnal-jurnal ilmiah terkemuka dunia karena dosen mayoritas kurang bisa leluasa mengakses. Penyebabnya, untuk bisa masuk (akses) perlu biaya sangat besar bahkan bisa mencapai rp 100 juta untuk langganan akses jurnal tertentu selama setahun saja. Sehingga kalau kampus ingin berlangganan 10 jurnal maka perlu dana rp 1 miliar per tahun.

"Pemerintah perlu investasi besar-besaran berlangganan jurnal ilmiah terkemuka dunia. Selanjutnya diserahkan ke kampus sehingga kampus bisa akses leluasan, selalu update ilmu dan juga memasukkan karyanya ke jurnal tersebut. Cara ini sudah banyak dilakukan negara lain, terutama negera yang belum maju" ujar dosen Faculty of Computing and Information Technology King Abdul Aziz University Saudi Arabia Prof Dr Anton Satria Prabuwono saat tampil sebagai pembicara utama Workshop Kerjasama dan Pengembangan Publikasi Internasional yang diselenggarakan LPPM Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) Kamis (04/08/2016). Workshop yang dibuka Rektor Prof Dr Masrukhi MPd ini menampilkan pula Muh Yusuf PhD (dosen Unimus) dan Dr Kurnianingsih (Polines).

Menurut Prof Anton, cara lain bisa diupayakan dengan dana terbatas dari pemerintah yaitu pemerintah membayari langganan jurnal untuk dipakai bersama-sama sejumlah kampus. Namun kendala yang juga tidak kalah pelik menyangkut masih sangat sedikit dosen yang mau dan berniat memasukkan karya jurnalnya di jurnal ilmiah top dunia.

Kebanyakan dosen menyatakan tidak punya waktu menulis jurnal, sudah cukup posisi atau pangkat sampai masa pensiun dan alasan lain yang intinya keengganan bersusah payah masukkan karya jurnal mereka ke jurnal internasional terkemuka. (Sgi)

BERITA REKOMENDASI