Pendidikan Vokasi di Indonesia Masih ‘Kelas Dua’

SEMARANG, KRJOGJA.com- Masyarakat Indonesia sampai sekarang masih menganaktirikan pendidikan vokasi (Diploma) dan menganggap pendidikan vokasi sebagai lapis kedua pendidikan di bawah pendidikan sarjana (Universitas, Institut dan lain-lain). Padahal lulusan pendidikan vokasi sangat dibutuhkan dunia industri dan dianggap relatif siap kerja begitu mereka lulus.
 
"Ini gambaran kenyataan di masyarakat. Padahal di negara-negara maju, pendidikan tinggi vokasi mendapat tempat sangat penting dalam pemerintah negara tersebut, termasuk dukungan penuh dari masyarakat, dunia industri dan stake holder lainnya. Dari pendidikan vokasi sangat banyak menghasilkan berbagai inovasi untuk negara-negara maju tersebut" ujar Rektor Undip Prof Dr Yos Johan Utama SH MHum didampingi Dekan Sekolah Vokasi Undip Prof Dr Ir Budiyono Msi kepada pers usai pembukaan International Conference of Vocational Studies on Applied Research (Icovar 2017) yang diselenggarakan Sekolah Vokasi Undip, Rabu (13/09/2017).
 
Menurut Rektor, masyarakat serta pemerintah harus selalu meningkatkan peran penting pendidikan tinggi vokasi karena pentingnya pendidikan vokasi sebagai pemasok lulusan yang siap kerja di berbagai perusahaan serta tempat ladang berbagai inovasi dan teknologi tepat guna serta teknologi maju. Konferensi dianggap penting seraya melibatkan pembiacara utama dari  negara (Indonesia, Inggris, Jepanng, Swiss, Jerman, Pakistan dan Rusia). 

Undip berencana membuka D4 (sarjana sains terapan) bahkan S2 Magister Sains Terapan dan S3 Doktor Sains Terapan nantinya di Undip. Tahun 2020 Sekolah Vokasi Undip ingin menjadi pusat pendidikan vokasi (terapan) unggul dan bertaraf internasional. (Sgi)

BERITA REKOMENDASI