Pengajaran HOTS, Cara Berfikir Tingkat Tinggi

SOLO, KRJOGJA.com – Di era revolusi industri 4.0 pembelajaran di sekolah sudah harus menerapkan HOTS (high order thinking skill). Terkait dengan itu, maka sudah seharusnya dunia pendidikan melakukan reorientasi kurikulum agar kualitas lulusannya  memiliki kompetensil dan daya saing.

"Kalau kompetensi kalah lulusan yang dihasilkan hanya jadi penonton saja," jelas Prof Dr rer.nat Sajidan MSi, pakar pendidikan Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo dalam bedah buku "Stimulasi Keterampilan Berpkir Tingkat Tinggi” di kampus Kentingan Solo, Selasa (18/12/2018).

Kenapa dalam pembelajatan perlu HOTS, lanjutnya, karena ditentukan intlektual scientific. Itulah perguruan tinggi menyerap calon mahasiswa yang minat dan bakatnya tinggi melalui SNMPTN maupun SBMPTN.  Input itu bisa melahiirkan lulusan yang baik ditentukan dengan suasana pembelajaran HOTS.

Peserta didik harus didorong untuk suka membaca, menilai dan menganilsis. Guru maupun dosen harus bisa memberdayakan dan menjadikan mitra. "Jadi mereka tidak dianggap sebagai botol kosong, tapi mitra guru dan dosen dalam berdiskusi," ujar Prof Sajidan.

Direktur Pasca Sarjana Prof Dr Furqon Hidayatullah mengapresiasi terbitnya buku di atas. Karena buku itu lahir lewat kolaborasi promotor dan yang dipromotori. Kalau hal ini berkembang terus, ke dapan UNS akan produktif dalam penerbitan buku.

Buku yang ditulis Afandi dan Sajidan diterbitkan UNS Press. Hari itu UNS Presa membedah dua buku. Satu lainnya berjudul ”Merancang Sekolah Responsif Gender: Kasus di Indonesia” karya Prof  Dr Ismi Dwi Astuti Nurhaeni MSi,  dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UNS.(Qom)

BERITA REKOMENDASI