Pentingnya Publikasi Ilmiah dalam Pendidikan Tinggi

Editor: Ivan Aditya

SLEMAN, KRJOGJA.com – Data dari Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) menunjukkan terdapat 297.854 dosen yang mengajar di 4.607 perguruan tinggi tanah air. Dari jumlah tersebut, baru sebanyak 177.000 dosen dan peneliti yang terdaftar di Science and Technology Index (Sinta). Bahkan hingga saat ini Indonesia baru menghasilkan 34.007 jurnal terindeks Scopus.

Direktur Riset dan Pengabdian Kepada Masyarakat Kemenristekdikti, Prof Ocky Karna Rajadsa PdD menyampaikan publikasi ilmiah memegang peranan penting baik bagi dosen maupun perguruan tinggi. Sebagai bagian dari globalisasi maka universitas di Indonesia juga harus mengikuti sistem ranking dunia.

"Salah satunya yang berperan penting adalah komponen publikasi yang dinyatakan dengan indeks sitasi. Sehingga kita mau tidak mau harus juga memperkuat kapasitas publikasi internasional," tegas Ocky Karna Rajadsa dalam seminar nasional dengan tema 'Meningkatkan Kemampuan Literasi Digital dalam Publikasi Ilmiah di Era Revolusi Industri 4.0' yang diselenggarakan Universitas Respati Yogyakarta (Unriyo) di Hotel Sahid, Kamis (21/11/2019).

Ocky Karna Rajadsa menengaskan, Direktorat Riset dan Pengabdian Kepada Masyarakat Kemenristekdikti akan membiayai tiga jenis riset yakni Riset Dasar, Riset Terapan dan Riset Pengembangan. Beberapa riset tersebut nantinya akan mencakup publikasi pada jurnal internasional, buku ajar, hak cipta, draft naskah kebijakan hingga prototipe laik industri.

Bahkan tahun ini secara khusus Kemenristekdikti mengalokasikan dana Rp 7,5 miliar untuk mempercepat akreditasi jurnal nasional. Untuk itu maka sebanyak 11 perguruan itu di tanah air dibebani untuk menghasilkan 1.000 jurnal terakreditasi.

"Jumlah jurnal yang ada di Indonesia dan statusnya sudah cukup mendorong untuk tumbuhnya publikasi ilmiah. Kami di Kemenristekdikti akan terus mendorong agar itu lebih meningkat lagi," jelasnya.

Guru Besar FEB UGM, Prof Mudrajad Kuncoro PhD menyampaikan publikasi di Indonesia masih tergolong rendah. Bahkan Indonesia dalam hal ini jauh tertinggal di antara negara-negara lain di Asia.

"Publikasi kita rendah karena peneliti Indonesia mayoritas berpendidikan S2 (59%), S3 (26%) dan S1 (12%). Mengapa minat menulis dosen, mahasiswa, guru rendah? Karena budaya kita lisan bukan tulisan, apa yang mereka ajarkan tidak pernah ditulis," kata Mudrajad Kuncoro.

Ia memberi masukan agar pihak perguruan tinggi memberikan apresiasi bagi para dosen yang akan menulis jurnal. Apresiasi itu dapat berupa insentif agar para dosen termotivasi selalu menulis jurnal untuk dipublikasikan.

Sementara itu Wakil Rektor I Unriyo, Dr Fransiska Lanni MS menyampaikan perguruan tinggi dituntut untuk mendorong publikasi ilmiah. Tak hanya bagi para dosen saja, namun juga sarjana magister dan doktoral, termasuk profesor.

Kemajuan teknologi informasi ilmiah yang menurutnya ada bisa dengan mudah diakses dalam bentuk digital. Sisi positifnya siapapun bisa bertukar pikiran memacu membuat penelitian bermunculan.

"Namun negatifnya akan terlalu bebas sehingga rentan terjadi pelanggaran etika akademik. Terutama publikasi ilmiah sampai plagiarsime," jelasnya. (*)

BERITA TERKAIT

Jalan Pleret – Banguntapan Diperbaiki

26 Februari 2020, 11:49:45 WIB

Sambut ‘Bali Baru’, Forum DTW Dibentuk

26 Februari 2020, 11:35:28 WIB

BPBD Siapkan Jalur Evakuasi Kawasan Rawan Longsor

26 Februari 2020, 11:29:30 WIB