Perajin Batik Diedukasi Tentang Bahaya Bahan Kimia

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Sejumlah dosen Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta mengedukasi para perajin batik di Gunungkidul melalui program pengabdian kepada masyarakat. Tim ini diketui oleh Prof Dyah Aryani Perwitasari PhD Apt yang juga Dekan Fakultas Farmasi UAD dengan anggota Mustofa Ahda MSc dan Imaniar Noor Faridah MSc Apt.

Dyah Aryani Perwitasari menjelaskan kesehatan masyarakat merupakan salah satu perhatian pemerintah Indonesia sebagai tolok ukur keberhasilan pemerintahan. Bahkan pemerintah telah mengalokasikan anggaran pembelanjaan belanja negara (APBN) pada 2019 untuk bidang kesehatan sebesar 5 persen dari total APBN. 

Hal ini merupakan sebuah bukti kepedulian pemerintah terhadap kesehatan masyarakatnya, walaupun anggaran ini tidak sebesar dengan bidang lainnya seperti pendidikan yang anggaranya mecapai 20 persen dari APBN pada tahun yang sama. Pihaknya bekerja sama dengan RS UAD berusaha membantu pemerintah Indonesia dengan melakukan edukasi-edukasi kepada masyarakat khususnya para pembatik di Gunungkidul. "Program ini dilakukan agar para pembatik dapat sadar dan peduli  terhadap kesehatan mereka," ungkapnya.

Ia mendorong kegiatan serupa dapat dilakukan dengan obyek masyarakat yang berbeda misal seperti petani, peternak dan pedagang. Hal ini dikarenakan masyarakat sangat membutuhkan kehadiran akademisi-akademisi untuk membantu mereka dalam meningkatkan kualitas hidup mereka.

"Sebagai seorang akademisi atau pendidik tidak hanya melakukan edukasi di dalam kelas saja. Ada beberapa kegiatan yang menjadi tugas akademisi/pendidik seperti penelitian dan pengabdian masyarakat dan dikenal sebagai Tri Dharma Perguruan Tinggi," ujarnya.

Mustofa Ahda menambahkan masing-masing kegiatan Tri Dharma Pergutuan Tinggi ini bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan masyarakat indonesia. Pengabdian masyarakat ini dilakukan pada industri Batik Manggar dan Batik Amarta. Kedua industri batik tersebut mendapatkan edukasi tentang bahaya bahan kimia dan pewarna pembatik bagi kesehatan yang disampaikan oleh Mustofa Ahda sedangkan pengukuran kualitas hidup mereka selama ini dilakukan oleh imaniar Noor Faridah.

"Selain itu, para pembatik juga mendapat pemeriksaan gratis dari dokter-dokter RS UAD untuk melihat keluhan penyakit apa yang ada selama proses membatik selama ini," katanya.

Imaniar Noor Faridah mengatakan program yang berlangsung dari bulan September hingga November ini diikuti oleh para pembatik dengan antusias. Para pembatik sangat senang dan berterima kasih atas kegiatan ini.

Hal ini dikarenakan mereka sebelumnya sangat tidak peduli terhadap kesehatan mereka. Mereka berharap selain edukasi tentang kesehatan mereka, mereka merasa ingin mengembangkan industri batik ini tidak hanya sebagai home industri.

"Ketua pembatik Manggar atau Amarta juga mengharapkan adanya terobosan-terobosan terbaru dalam mengembangkan industri batik ini sehingga industri batik ini dapat berkembang lebih pesat lagi," pungkasnya. (*)

BERITA REKOMENDASI