Perguruan Tinggi Jangan Tercerabut dari Desa

JAKARTA, KRJOGJA.com –  Perguruan tinggi harus turut serta membangun desa dan daerah tertinggal, baik dalam pembangunan infrastruktur maupun sumber daya manusia.

Itulah ajakan dari Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, Halim Iskandar, kepada pimpinan perguruan tinggi di Indonesia dalam Diskusi berjudul Sinergi Pembangunan dan Pengembangan Daerah Tertinggal”.

Halim menjelaskan bahwa Kemendes PDTT telah menjalin kerja sama dengan perguruan tinggi untuk membangun desa melalui program Perguruan Tinggi untuk Desa (Pertides). Saat ini telah terdapat 84 perguruan tinggi tergabung. Halim mengupayakan Pertides berjalan lebih optimal dalam masa kepemimpinannya.

”Kami ingin lebih optimal lagi. Sekaligus menyampaikan kepada kita semua,  jangan menjauhkan universitas dari desa, bahkan tercerabut dari akar budayanya. Contohnya sederhana, semakin kampus terpapar radikalisme, maka bisa jadi disebabkan semakin tercerabut dari akar budayanya. Prinsipnya, ayo kita kembali ke desa,” ajak Halim kepada pimpinan perguruan tinggi.

Selain keterlibatan langsung, Halim meminta perguruan tinggi untuk mempersiapkan para lulusan perguruan tinggi yang ingin membangun desanya. Menurutnya, perguruan tinggi harus membentuk paradigma mahasiswa saat lulus harus kembali ke desa, tidak justru meninggalkannya. Pasalnya, menurut Halim kepemimpinan di tingkat desa menjadi masalah lain dalam mewujudkan pembangunan dari desa.

”Contoh masalah dalam kepemimpinan desa ialah perubahan dari budaya manajemen uang. Dulunya dipegang sendiri oleh kepala desa, dan pertanggungjawabannya tidak kompleks, kini dana besar, pertanggungjawabannya detail. Apalagi ketika ada desa yang tertinggal, maka dana yang diberikan justru semakin besar karena butuh bantuan lebih banyak. Di sinilah perlu SDM yang siap mengelola dana desa untuk output yang jelas bagi masyarakatnya, baik sosial budaya maupun infrastruktur” terang Halim.

Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Dirjen Belmawa), Ismunandar, menyambut baik gagasan dan keinginan yang disampaikan oleh Menteri Desa PDTT. Ia menganggapi bahwa beberapa konsep perekonomian dan pembangunan desa dapat dibantu oleh perguruan tinggi melalui riset, pengabdian masyarakat, atau Kuliah Kerja Nyata. Misalnya dalam konsep desa digital, hutan rakyat, dan lain sebagainya.

Selain itu, Ditjen Belmawa pun memiliki program Hibah Bina Desa yang telah diselenggarakan delapan tahun dan membantu banyak masyarakat desa dalam berbagai bidang.

”Banyak sekali yang dapat dikerjakan oleh perguruan tinggi dalam membangun desa. Saya harap ke depannya dapat lebih bersinergi lagi dengan baik,” sambut Ismunandar.

Secara khusus Menteri Desa dan PDTT meminta bantuan kepada Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) yang memiliki Fakultas Ilmu Keolahragaan. ”Sebagai contoh sederhana, mohon dukungannya, khususnya kepada kampus yang memiliki FIK. 2021, akan diselenggarakan piala dunia U20 di Indonesia. Di Kemendes ada liga desa. Liga desa tersebut perlu dimodifikasi sedemikian rupa sekaligus menyemarakkan piala dunia,” jelasnya.

Hal tersebut senada dengan penjelasan Guru Besar Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan (FPOK), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Prof. Rusli Lutan, menyambut baik rencana tersebut. Menurutnya, olahraga dapat membangun masyarakat desa menjadi lebih sehat baik fisik dan mental. Pembangunan desa menurutnya menghadapi tantangan baru di era digital. Salah satunya dengan teknologi yang dapat mengasingkan ketertarikan terhadap desanya. Kecanduan terhadap gadget, dicemaskan juga mengganggu generasi muda yang berada di desa. Selain itu, dikhawatirkan pesatnya teknologi memutusk ikatan keluarga inti.(ati)

 

BERITA REKOMENDASI